
TELUKKUANTAN – Kondisi air Sungai Kuantan masih keruh akibat tercemar limbah penambangan emas tanpa izin (PETI) hanya beberapa hari menjelang pembukaan festival kebudayaan Pacu Jalur pada 19–23 Agustus mendatang.
Kondisi tersebut tetap terjadi meski Kepolisian Daerah (Polda) Riau dan jajarannya telah menggelar operasi penertiban PETI secara berskala besar di wilayah tersebut. Sungai Kuantan merupakan lokasi utama penyelenggaraan tradisi tahunan masyarakat Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing), Riau tersebut.
Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Kuansing, Muklisin, menyatakan bahwa pemerintah daerah bersama pihak kepolisian telah berupaya maksimal menertibkan aktivitas tambang ilegal di wilayahnya. Namun, ia menegaskan bahwa pemulihan kualitas air sungai yang mengalir dari Provinsi Sumatra Barat hingga Indragiri Hilir tersebut sangat bergantung pada komitmen daerah di bagian hulu.
"Mau bagaimana lagi, kita sudah habis-habisan, Sumbar tidak serius (penertiban PETI)," ujar Muklisin kepada GoRiau.com di Telukkuantan, Jumat (14/8/2026).
Muklisin menjelaskan, pihaknya telah melayangkan surat resmi kepada Pemerintah Kabupaten Sijunjung, Pemkab Dharmasraya, serta kepolisian resor setempat untuk meminta dukungan penertiban PETI demi kesuksesan agenda budaya nasional ini.
Ia membandingkan kondisi tersebut dengan Sungai Singingi yang hulunya berada di wilayah Kuansing. Menurutnya, penertiban tegas yang dilakukan Polda Riau berhasil mengembalikan kejernihan air Sungai Singingi hingga dapat kembali dimanfaatkan warga.
"Kalau hulu sungainya ada di kita, sudah selesai. Contohnya Sungai Singingi, sekarang sudah jernih, sudah dimanfaatkan warga untuk mandi," kata Muklisin sembari menyampaikan apresiasinya atas kerja keras aparat kepolisian.***