SIAK SRI INDRAPURA, GORIAU.COM - Pagi itu cuaca tampak cerah, meski jarum jam masih menunjukan pukul 07.30 WIB, cahaya mentari begitu terasa menyinari bumi. Kondisi ini sedikit aneh, karena hari-hari sebelumnya, langit Siak Sri Indrapura selalu diselimuti kabut asap, dampak dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Udara di awal tahun baru Islam, 1437 Hijriyah ini begitu sempurna.

Sekitar pukul 08.00 WIB, Rabu (14/10/2015), GoRiau.com dan dua wartawan media cetak terbitan Pekanbaru sudah berada di kantor Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Siak. Kepala Bidang (Kabid) Damkar Irwan Prayitna bersama Pawi (staf di Damkar, red) sudah standby menunggu kedatangan kami."Ngopi dulu, habis tu kita langsung ke lokasi, oke," ujar Irwan yang terlihat gagah memakai baju kebesarannya.

Tak lama berselang, kami berlima memasuki mobil plat merah berwarna orange yang biasa digunakan Irwan untuk menjalankan tugasnya. Di bagian depan mobil double cabin itu tertulis "Fire Fighter". Dari Kota Siak Sri Indrapura, Irwan mengemudikan mobilnya ke arah Kecamatan Dayun, lokasi bekas karhutla yang terjadi minggu lalu. Sekitar 30 menit perjalanan dengan jarak 25 km, kami sudah berada di pintu masuk Badan Operasi Bersama (BOB) PT Bumi Siak Pusako-Pertamina Hulu.

Data dari situs www.bobcpp.co.id, BOB PT BSP-Pertamina Hulu yang beroperasi sejak tahun 2002 ini memiliki wilayah kerja Blok CPP seluas 9.135,06 km persegi.Blok CPP terletak di Provinsi Riau, yang tersebar di 8 kabupaten, dimana 80 persen sumber daya migas berada di Kecamatan Dayun, Kabupaten Siak. Terbagi dalam 3 area yaitu Zamrud Area, West Area dan Pedada Area. Wilayah kerja ini sebelumnya dikelola PT Caltex Pacific Indonesia (PT CPI) sampai 18 Agustus 2002. Kegiatan BOB PT BSP-Pertamina Hulu antara lain, eksplorasi, produksi dan pengangkutan minyak.

Setelah melewati pintu masuk perusahaan, perjalanan dilanjutkan ke areal distrik-distrik, lokasi sumur-sumur minyak yang berjarak sekitar 20 km dari kantor BOB. Kami menelusuri jalan tanah yang dibangun pihak perusahaan dengan lebar sekitar 6 m. Di mulai dari KM 50 hingga KM 90, (biasanya orang perusahaan BOB menyebut distrik, bukan kilometer).Seterusnya, mulai KM 90 sampai 100 sudah masuk kawasan suaka marga satwa atau biasa disebut hutan lindung Zamrud yang dikenal dengan paru-paru dunia.

Sementara, di sisi kanan jalan, tampak pipa minyak dengan ukuran tidak terlalu besar, diperkirakan memiliki diameter 70-80 cm. Pipa ini berfungsi untuk menyuplai minyak dari sumur-sumur ke tangki penampungan sementara yang berada di areal perusahaan. Tak ada rumah penduduk, hanya beberapa buah bangunan bedeng yang ditemukan.

Ketika sampai di distrik 70, kami menemukan pemandangan yang cukup mencenggangkan. Di bagian sisi kiri jalan terlihat ratusan hektare hutan bekas karhutla. Dari kejauhan, masih terlihat gumpalan asap di sejumlah titik.

"Wah, itu kayaknya api hidup lagi, minggu lalu kami bersama tim terpadu dan TNI sudah memadamkannya," kata Irwan seraya menunjuk ke arah lahan yang berasap.

Irwan membelokkan mobil ke arah lahan, melewati jalan buntu sekitar 2 km. Di ujung jalan, agak lebar seperti lapangan, dimana di tengah-tengahnya terlihat mesin pompa minyak BOB yang sedang aktif bekerja. Irwan menghentikan mobilnya, dan kami pun turun untuk melihat lokasi yang terbakar.

"Kalau yang sebelah kanan, bekas terbakar satu bulan lalu, yang berasap itu minggu lalu. Dua hari lalau kita cek, tak ada asap, tapi sekarang muncul lagi," jelasnya.

Irwan mengaku, 3 bulan terkhir ada sekitar 600 hektare hutan yang dibakar di sini. Hutan yang masuk areal penyangga, berjarak sekitar 25 km dari kawasan hutan lindung Zamrud itu, sebelumnya dipenuhi ribuan kayu alam jenis Meranti, namun sekarang semuanya sudah berubah menjadi arang. Kuat dugaan, kawasan ini menjadi incaran bagi mafia-mafia untuk membuka lahan dengan cara dibakar.

"Gila, ratusan hektare hutan lindung sudah berubah jadi kayu arang, asapnya menimbulkan bencana bagi masyarakat Riau. Memang tak manusiawi," geram salah seorang wartawan.

Irwan melanjutkan, areal ini menjadi rebutan bagi para mafia lahan, yang nantinya untuk ditanam sawit. "Informasi yang saya dapat, ada 3 kelompok berebut lahan ini. Nanti lihat saja sekitar bulan Januari atau Februari tahun depan, sudah ada pokok sawit yang ditanam," jelas Irwan.

Berdampingan di areal hutan itu, lanjut Irwan, ratusan hektare lahan konsesi perusahaan, seperti PT Arara Abadi, PT RAPP dan PT Eka Wahana. "Namun, masing-masing pihak perusahaan punya tim pemadam karhutla yang selalu bekerja sama dengan kita untuk memadamkan api," katanya.

Kemudian, kami meneruskan perjalan ke distrik-distrik lain yang berjarak sekitar 1-2 kilo, dimana puluhan mesin pompa minyak milik BOB sibuk bekerja. Di sejumlah distrik juga terlihat sumber air yang sengaja dibuat pihak BOB untuk menampung air, untuk memadamkan api jika terjadi karhutla."Semua sumur penampung air ini, orang BOB yang buat, tapi lihat saja airnya tak banyak karena musim kemarau," kata Irwan.

Sekitar 1 jam melihat bekas titik api di distrik 70 hingga 83, kami mengajak Irwan melihat lokasi tempat pelaku pembalakan liar (illegal loging) yang ditangkap 3 hari lalu. Meski awalnya sedikit keberatan karena masalah illegal loging itu bukan kewenangannya, namun setelah dijelaskan tugas investigasi jurnalistik yang kami lakukan ini, akhirnya Irwan dan Pawi bersedia mengantarkan kami ke distrik 84-85, lokasi illegal loging.(bagian 1/bersambung)