
PEKANBARU – Genangan air yang berbulan-bulan merendam Gang BTN Yepupa, Jalan Merpati Sakti, Panam, mulai menuai sorotan dari DPRD Pekanbaru. Anggota Komisi IV DPRD Pekanbaru dari daerah pemilihan Binawidya sekaligus Ketua Fraksi PAN, Roni Pasla, menilai pemerintah harus bertanggung jawab atas kondisi yang dialami warga.
“Jadi itu bagaimana tanggung jawab. Soalnya masyarakat itu sudah mengeluh, jalan di situ sudah sampai berlumut, rumah orang terendam,” kata Roni, Senin (11/5/2026).
Ia mengaku pernah turun langsung ke lokasi dan melihat kondisi lingkungan yang dinilai semakin memburuk akibat genangan yang tak kunjung selesai ditangani. Menurut dia, usulan penanganan sebenarnya telah disampaikan sebelumnya melalui pokok-pokok pikiran (pokir) DPRD.
Namun, kata dia, banyak usulan tidak berjalan karena keterbatasan anggaran daerah tahun 2026.
“Saya juga sudah pernah turun di situ. Sudah kita usulkan, tapi tahu sendiri 2026 ini pokir kita tidak ada, dihabisin. Nah, tanya sama pemerintah, karena pemerintah ngambil alih semuanya,” ujarnya.
Roni juga menyoroti pekerjaan penanganan drainase yang dinilai belum tuntas. Ia menyebut pengerjaan yang setengah jalan justru memperparah keresahan masyarakat.
“Orang itu kemarin mengerjakan, tapi dibiarkan sehingga penumpukan dan terjadi kebanjiran lebih parah,” katanya.
Ia meminta Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Pekanbaru segera menyelesaikan persoalan tersebut secara menyeluruh, bukan sekadar penanganan sementara.
“Kalau mengerjakan, tuntaskan. Jangan malah bikin masyarakat jadi gelisah,” ujar dia.
Menurut Roni, persoalan genangan di kawasan itu bukan masalah baru. Kondisi tersebut, kata dia, telah berlangsung bertahun-tahun hingga membuat warga merasa diabaikan.
“Ini sudah bertahun-tahun sehingga masyarakat merasa mereka ini terabaikan. Dan tentu nanti pihak PU harus cepat tanggap dalam hal ini,” katanya.
Sebelumnya diberitakan, genangan air di Gang BTN Yepupa membuat badan jalan berubah menyerupai kolam. Air berwarna kehijauan menggenang di atas jalan beton, permukaannya licin berlumut dan menimbulkan bau tak sedap. Bahkan di beberapa titik tampak ikan kecil berenang di genangan tersebut.
Warga setempat, Muhammad Syafii, mengatakan air dapat naik hingga di bawah lutut orang dewasa saat hujan turun meski hanya sekitar satu jam. Menurut dia, kondisi berubah sejak pembangunan jalan di sekitar kawasan membuat aliran air kehilangan jalur keluar.
“Dulu banjirnya cepat surut karena ada tempat mengalir. Sekarang airnya seperti terkurung, tidak bisa ke mana-mana,” kata Syafii.
Pemerintah Kota Pekanbaru melalui bidang sumber daya air (SDA) sebenarnya telah melakukan pengerjaan seperti pengurukan parit dan pemotongan badan jalan untuk membuka jalur aliran air. Namun hingga kini pekerjaan tersebut belum rampung sehingga genangan masih terjadi.
Warga berharap pemerintah segera menuntaskan sistem drainase agar jalan kembali bisa digunakan normal dan lingkungan tidak lagi terendam berbulan-bulan. ***