PANGKALANKERINCI, GORIAU.COM - Entah berdasarkan pertimbangan teknis apa, yang jelas, jalan poros desa di Pulau Mendul Kuala Kampar, Pelalawan, Riau dibangun mirip seperti membangun kanal. Jalan selebar enam meter tersebut di sisi kiri dan kanan dibuat tembok dan badan jalan terlalu licin. Akibatnya, saat hujan terjadi, jalan tersebut mirip seperti kanal tempat lewatnya sampan.

Akibat jalan yang tidak bisa digunakan, masyarakat setempat akhirnya melaporkan kondisi ini ke DPRD Pelalawan, Selasa (25/9/2012). Pada kesempatan itu, warga mencerikan seluruh peristiwa mulai dibangunnya jalan yang mirip kanal hingga kondisi saat ini.

''Awalnya, kami sangat bahagia dan mendukung proyek jalan belah (poros-red) Pulau Mendul di Kuala Kampar ini. Tapi sampai sekarang ternyata jauh dari harapan. Saat hujan warga kesulitan menempuhnya bahkan tak jarang warga dan anak sekolah yang terjatuh karena terlalu licin,'' terang Fauzi dan Herman, warga Desa Sungai Upih Kecamatan Kuala Kampar, Selasa (25/9/2012).

Jalan tersebut dibangun melalui proyek tahun anggaran 2007 dengan biaya Rp34 miliar Jalan dibangun layaknya parit, yang dikiri kanannya dipasang benteng dan ditengah jalan kosong melompong.

Jalan ini melintasi Desa Sungai Upih dan sejumlah desa lainnya dengan panjang kurang lebih 21 kilometer dengan lebar 6 meter, kiri kanan jalan dibuat semacam tembok dari tanah setinggi 1 meter dan lebar 1 meter. ''Jadi dengan ketinggian 1 meter, bagian tengah atau badan jalan kosong. Kondisi inilah yang membuat masyarakat kesulitan. Saat musim hujan badan jalan tergenang air layaknya kanal, sedangkan sisi kiri kanan yang biasanya dapat dilalui pun licin dan membuat banyak warga yang jatuh seperti di kubangan babi. Padahal tiap hari ribuan warga melintas di jalan ini,'' jelasnya.

Kedua warga yang juga mantan Ketua dan anggota BPD Desa Sungai Upih mengharapkan adanya perhatian pemerintah untuk melanjutkan proyek pembangunan jalan poros Pulau Mendul tersebut. ''Ya kami masih berharap proyek jalan itu diteruskan, entah hanya dengan menimbun badan jalan menjadi rata atau disemenisasi atau lainnya, yang penting sarana jalan itu tidak menimbulkan kesulitan bagi masyarakat, baik yang bekerja, mengangkut hasil pertanian maupun anak-anak yang pergi ke sekolah menjadi mudah,'' harapnya.

Ketua Komisi B H Herman Maskar, S.Pd yang mendengarkan keluhan yang disampaikan masyarakat menyarankan agar aspirasi itu disampaikan kepada sejumlah anggota DPRD Pelalawan asal Kecamatan Kuala Kampar. ''Kan ada beberapa anggota DPRD Pelalawan dari Kuala Kampar, ya sampaikan kepada mereka tentunya kami akan mendukungnya jika untuk kepentingan masyarakat. Kalau pun tahun ini tidak mungkin, bisa jadi tahun depan bisa diajukan anggarannya,,'' jelasnya Herman.

Proyek jalan poros itu dimulai saat Bupati Pelalawan H T Azmun Jaafar, SH memimpin. Namun seiring bergantinya tampuk pemerintahan daerah dengan mempertimbangkan banyak hal sehingga proyek itu belum dituntaskan. ’’Bisa jadi ada pertimbangan pemerintah dengan kegiatan yang lebih mendesak dan lebih penting lagi sehingga kegiatan itu belum tuntas,’’ ujarnya sambil menyebutkan, salah satu kendala yang sempat menghalangi kegiatan itu, karena tidak diizinkannya Pemkab Pelalawan mengeruk pasir yang ada di Kecamatan Kuala Kampar.

''Pemda Pelalawan sudah minta izin ke Menteri Pertambangan dan Energi waktu itu guna memanfaatkan pasir yang ada di sana untuk menimbun badan jalan, tapi tak diizinkan. Tapi anehnya sekarang alih-alih ada pula aktivitas penambangan pasir di sana yang tidak jelas mengantongi izin dari mana,'' ungkapnya.(kst)