
PEKANBARU – Iskandar Hoesin resmi terpilih sebagai Ketua KONI Riau periode 2022-2026 secara aklamasi pada rapat pleno Musyawarah Provinsi Luar Biasa (Musprovlub) KONI Riau, Senin (14/2/2022) di Pekanbaru.
Iskandar Hoesin sebelumnya sudah diprediksi akan menang secara aklamasi karena selain calon tunggal, saat pendaftaran juga sudah mengantongi dukungan sebanyak 24 pengurus provinsi (Pengprov) cabang olahraga (cabor). Namun, setelah diverifikasi hanya 22 Pengrov cabor yang sah.
Setelah dinyatakan sebagai pemenang, Iskandar Hoesin mengatakan memastikan akan merangkul seluruh elemen untuk kemajuan olahraga di Riau.
"Baik KONI kabupaten kota dan juga pengurus cabang olahraga yang ada di provinsi serta kabupaten kota semua kita rangkul," katanya, Senin (14/3/2022).
Iskandar Hoesin juga menjelaskan saat ini sudah tidak ada lagi riak-riak selama berjalannya pemilihan Ketua KONI Riau, hal ini seiring dengan selesainya pelaksanaan Musorprovlub.
Selanjutnya program kerja yang akan diusungnya untuk lima tahun kedepan adalah mengedepankan pembinaan olahraga yang ada di kota dan juga kabupaten secara isentif.
"Disamping itu pemerintah juga harus ikut mendukung, tapi jangan berharap dengan anggaran dari pemerintah. Dari itu kita harus menggalang kekuatan untuk menjaring sponsor," jelasnya.
Riau sebagai salah satu provinsi terkaya di Indonesia, menurutnya, akan banyak perusahaan yang bersedia untuk membantu pembinaan olahraga di Riau.
Pekerjaan rumah yang saat ini harus dikebut oleh KONI Riau adalah pelaksanaan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) di Kabupaten Kuantan Sengingi dan juga pelaksanaan Pekan Olahraga Nasional (PON) 2024 yang akan berlangsung di Aceh dan Sumatera Utara.
"Sebagai tuan rumah mereka (Aceh dan Sumut) pasti akan mempersiapkan diri, apalagi di waktu relatif singkat ini harus dipacu bagaimana menjadi peringkat tertinggi se-Sumatera," ucapnya.
Dikatakan, kepengurusan KONI Riau ini dimulai dari awal, karena Kantor KONI Riau saat ini tidak jelas setelah kantor lamanya yang ada di Jalan Gajah Mada, Pekanbaru berubah menjadi Kantor Samsat.
"Arsip juga gak tahu dimana, seharusnya dimasa transisi ini jangan pindah kantor. Kalau saya mau ngantor besok bagaimana?, Itu salah satu tantangan yang harus dijawab juga," terangnya. ***