
JAKARTA – Ketegangan antara Teheran dan Washington mencapai level yang mengkhawatirkan setelah militer Iran secara terbuka menantang ultimatum Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Markas Besar Pusat Khatam Al Anbiya, badan pengawas operasi militer Iran, menegaskan akan menghancurkan seluruh infrastruktur Amerika Serikat dan Israel di kawasan Timur Tengah jika ancaman serangan terhadap pembangkit listrik mereka benar-benar dilakukan.
Langkah ini merupakan respons langsung atas gertakan Trump yang memberikan waktu 48 jam bagi Iran untuk membuka Selat Hormuz atau menghadapi kehancuran fasilitas energi mereka. Juru bicara militer Iran menyatakan bahwa serangan balasan mereka tidak akan terbatas pada pangkalan militer, melainkan menyasar aset strategis Amerika Serikat di seluruh kawasan.
"Jika infrastruktur bahan bakar dan energi Iran diserang oleh musuh, semua infrastruktur energi, teknologi informasi, dan desalinasi milik Amerika Serikat dan rezim Israel di kawasan akan menjadi sasaran," tegas juru bicara tersebut dalam laporan Kantor Berita Fars, Minggu (22/3/2026).
Sebelumnya, Trump memicu kegemparan global melalui unggahan di akun Truth Social pada Sabtu malam. Ia bersumpah akan menginstruksikan militer Amerika Serikat untuk melumpuhkan pembangkit listrik terbesar di Iran jika akses navigasi di Selat Hormuz tidak segera dibuka tanpa syarat. Ancaman yang diunggah pukul 19.44 waktu setempat tersebut menciptakan hitung mundur yang akan berakhir pada Senin malam besok.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, sebelumnya juga telah memperingatkan bahwa Teheran tidak akan lagi menahan diri. Ia menegaskan akan adanya "serangan tanpa batas" sebagai balasan atas tindakan agresif yang menargetkan fasilitas energi mereka, berkaca pada insiden serangan Israel terhadap ladang gas raksasa South Pars.
Kini, dunia berada di ambang perang terbuka. Ancaman Iran untuk menyerang fasilitas desalinasi dan teknologi informasi Amerika Serikat di Timur Tengah diprediksi akan menimbulkan kekacauan kemanusiaan dan ekonomi yang luar biasa. Sementara itu, pemerintahan Trump mulai dibayangi kekhawatiran akan lonjakan harga BBM dunia jika eskalasi militer ini meletus di jalur distribusi minyak paling vital di dunia tersebut.***