JAKARTA – Iran secara terbuka menyatakan bahwa seluruh warga negara dan personel militer Amerika Serikat (AS) di kawasan Timur Tengah kini menjadi target serangan. Pernyataan ini disampaikan usai AS menggempur tiga lokasi fasilitas nuklir Iran pada Ahad dini hari (22/6/2025).

"Setiap warga negara Amerika atau personel militer di kawasan itu sekarang menjadi sasaran," kata seorang komentator di media pemerintah Iran.

Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), cabang utama militer Iran, menegaskan bahwa "perang dimulai sekarang juga." Serangan balasan tersebut merupakan respons atas aksi militer AS yang menurut Presiden AS, Donald Trump, ditujukan ke tiga titik fasilitas nuklir strategis di Iran.

Menteri Pertahanan Iran, Aziz Nasirzadeh, jauh-jauh hari telah memperingatkan AS bahwa jika agresi dilanjutkan, maka pembalasan akan dilakukan secara berani. "Semua pangkalan AS berada dalam jangkauan kami dan kami akan dengan berani menargetkan mereka," tegasnya pada 11 Juni lalu.

Ketegangan ini memperuncing konflik yang telah berlangsung dalam bentuk saling serang rudal dan pesawat tak berawak antara Iran dan Israel sejak Jumat lalu. Situasi tersebut kini telah meningkat menjadi potensi perang besar-besaran di Timur Tengah.

Israel pun meningkatkan status siaga. Kementerian Pertahanan Israel membatalkan seluruh kegiatan pendidikan, pertemuan, dan aktivitas kerja yang bukan dari sektor vital.

Langkah militer AS, menurut sejumlah analis, merupakan kelanjutan dari serangan Israel yang sebelumnya menyasar sistem pertahanan dan fasilitas pengayaan nuklir Iran. Sabtu lalu, terlihat pesawat pembom B-2 AS terbang ke arah barat dari wilayah AS.

Pesawat B-2 dikenal sebagai satu-satunya pembom yang dapat membawa bom penghancur bunker seberat 15.000 kilogram, senjata yang diyakini mampu menembus hingga 60 meter di bawah tanah sebelum meledak.

Fasilitas pengayaan uranium bawah tanah Fordow, salah satu target utama, disebut-sebut berada pada kedalaman ratusan meter. Pejabat AS dan Israel menyatakan bahwa hanya bom penghancur bunker milik AS yang memiliki kapasitas untuk merusak situs semacam itu.

Situasi ini menandai babak baru eskalasi antara Iran, AS, dan Israel di kawasan yang rawan konflik, memicu kekhawatiran akan dampak lanjutan terhadap stabilitas global. ***