PANGKALANKERINCI - Melalui program Restorasi Ekosistem Riau (RER), APRIL Group mengucurkan investasi sebesar US$100 juta untuk 10 tahun ke depan, sebagai komitmen merestorasi dan mengkonservasi ekosistem di Riau.

Langkah ini merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam upaya perluasan restorasi lahan gambut di Indonesia. Sejalan pertemuan tingkat tinggi Conference of The Parties (COP) ke 21 di Paris, untuk mencapai kesepakatan dalam upaya mengatasi perubahan iklim.

Menurut Managing Director APRIL, Tony Wenas, investasi itu membuktikan akan kepedulian perusahaan terhadap restorasi yang mencakup pentingnya jasa lingkungan dan kebutuhan akan pendekatan inklusif terhadap masyarakat.

"Kami terus belajar dari pengalaman dan mengembangkan pendekatan untuk memberikan manfaat bagi lingkungan, kesempatan ekonomi melalui kesempatan kerja dan pembangunan infrastruktur, sekaligus memberikan faedah bagi masyarakat lokal," ujarnya dalam suatu kesempatan.

APRIL Group terus berkomitmen mendorong perkembangan yang berkelanjutan di segala lini dalam rangka mengimplementasikan praktik-praktik terbaik di bidang sosial, lingkungan dan perekonomian yang dipandu dalam filosofi bisnis yang harus dilaksanakan, 4C (Good For Communty, Good For Country, Good for Climate, Good for Company).

APRIL Group sangat berkomitmen dalam menjaga kelestarian alam secara berkesinambungan sebagai bagian dari upaya menjaga iklim (good for climate) terus dilaksanakan, salah satunya dengan meluncurkan kebijakan pengelolaan hutan lestari (sustainable forest management policy/SFMP) versi 2.0, dimana kebijakan ini merupakan pemutahiran dari SFMP 1.0 pada 2014 lalu.

Kebijakan SFMP 2.0 yang dirilis Juni 2015 lalu, dibangun di atas bentang alam perusahaan untuk konservasi. Artinya APRIL Group tidak akan melakukan pengembangan baru di atas lahan berhutan atau lahan hutan.

Menambahkan pengukuran Stok Karbon Tinggi (High Carbon Stock/HCS), selain pengukuran Nilai Konservasi Tinggi (High Conservation Value/HCV) yang telah dilakukan selama ini.

Dengan memperkuat konservasi bentang alam, dimana perusahaan akan menyediakan areal konservasi seluas 480,000 Ha dari luas hutan tanaman yang dimiliki, 70 persen diantaranya telah selesai dikonservasi.

APRIL Group juga memperkuat pengelolaan lahan gambut dengan membangun Satuan Kerja Ahli Gambut (Peat Expert Working Group/PEWG), dengan melakukan pengamatan dan melaporkan jejak karbon.

Dalam pertemuan COP 21 yang diselenggarakan di Paris Desember 2015 lalu, APRIL Group telah menjelaskan adanya kebijakan 1 banding 1, yaitu mengganti lahan seluas 1 Ha Hutan Tanaman Industri (HTI) dengan 1 Ha lahan yang dikonservasi.

Seiring berlangsungnya pertemuan tingkat tinggi COP 21 di Paris untuk mencapai kesepakatan dalam mengatasi perubahan iklim, peningkatan komitmen untuk program RER ini dipercaya sebagai komitmen terbesar oleh pihak swasta dalam sebuah proyek restorasi ekosistem di Indonesia yang meliputi pengkajian, restorasi dan perlindungan, serta manajemen dan kemitraan.

Direktur Konservasi, Dr Petrus Gunarso menjelaskan, RER merupakan sebuah upaya dari APRIL untuk menyelamatkan ekosistem hutan, dengan tugasnya adalah mengembalikan fungsi hutan seperti semula dan itu bukanlah hal yang mudah.

Namun Petrus Gunarso percaya, dengan dukungan dari pemerintah, perusahaan dan masyarakat, hal tersebut akan dapat terwujud.

"Konsep one-to-one menjadi penting dimana setiap untuk 1 Ha area hutan tanaman untuk 1 Ha konservasi. APRIL dan Gemilang Cipta Nusantara (GCN) telah mengambil langkah ke depan untuk menjaga bumi, khususnya hutan," ujarnya.

Selain memperluas area restorasi, ARPIL Group juga menyatakan siap untuk meningkatkan area konservasi menjadi 400.000 Ha.

Direktur Jendral Pengelolaan Hutan Produksi Lestari (PHPL) Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Dr Ir Ida Bagus Putera Parthama, sangat mengapresiasi program yang telah diluncurkan oleh APRIL bersama GCN pada tahun 2013 lalu tersebut.

Menurutnya, langkah ini merupakan komitmen perusahaan yang luar biasa untuk melakukan restorasi hutan yang ada di Riau. Ia percaya jika program RER dijalankan dengan serius, hutan yang asri di bumi Melayu bukan hanya sekedar mimpi.

"RER adalah salah satu upaya dalam menjaga keseimbangan alam. Kami dari PHPL sangat mengapresiasi dengan baik dan semoga program ini bisa ditingkatkan dan pastinya mengembalikan fungsi hutan seperti semula. Kami sangat mendukung penuh apa yang dilakukan RAPP dalam upaya menjaga kelestarian ekosistem yang sangat mulia sehingga kita patut berkolaborasi," urai Ida Bagus.

Hingga saat ini, kegiatan RER tidak hanya melakukan kegiatan konservasi lahan, namun juga memunculkan inovasi baru dalam pengelolaan hutan produksi, perlindungan flora dan fauna serta mitigasi dan adaptasi perubahan iklim.

Selain itu, APRIL bersama dengan masyarakat dan tim ahli lingkungan juga terus berkolaborasi dalam melaksanakan praktik terbaik untuk lingkungan, mulai dari pembuatan embung kanal, ekohidro, by pass sisir, dan pengelolaan lahan gambut.(***)