BENGKALIS - Pulau Rupat yang berada di wilayah Kabupaten Bengkalis, Provinsi Riau. Terdapat kisah yang disampaikan secara turun-temurun tentang masyarakat tersebut berkaitan dengan asal muasal dan keberadaannya hingga sampai ke Pulau Rupat.

Awalnya suku-suku Rakit, Ratas, Hutan, Sakai berasal dari Minang (Pagaruyung). Ketika terjadi peperangan dengan Belanda mereka mundur mengungsi ke hutan lalu ke sungai Mandau kemudian ke Sungai Siak Indrapura.

Pada masa pemerintahan Sultan Sarif Karim IX, diadakan kenduri dan menyuruh orang untuk mengambil kayu di hutan, sehingga dibagi 4 kelompok, yaitu, kelompok menebang kayu (hutan), meratas (ratas), merakit (rakit), dan Sakai. Setelah seminggu mereka kembali ke Siak dengan membawa kayu.

Kemudian keempat suku diperintahkan mencari tempat atau pulau yang tidak ada binatang buas, sampailah kelompok Rakit dan Ratas ke suatu pulau. Kelompok tersebut menyusuri sungai Selat Morong dari barat hingga ke timur. Semula yang mendiami pulau tersebut adalah orang Rampang yang kemudian dikenal dengan suku Laut.

Mereka diperbolehkan menempati pulau tersebut dengan membawa barang-barang sebagai alat penukar seperti, sebatang pendayung emas, sekerat biji beras, dan sekerat tampi sagu. Kemudian kelompok tersebut ke Bukit Batu menghadap ke Laksmana Raja Dilaut untuk meminta bahan-bahan itu.

Selanjutnya Laksmana meneruskan ke Sultan Siak, bahan-bahan tersebut diberikan ke Laksmana, kemudian diberikan ke kelompok tersebut dan oleh kelompok itu diserahkan ke orang Rampang. Terjadilah pertukaran tempat yang akhirnya pulau itu dikenal dengan Pulau Rupat (Pulau Tukar Tempat).

Selanjutnya kelompok Ratas menetap di Titi Akar, di bagian timur sungai Selat Morong (sekarang masuk Kecamatan Rupat Utara), dan kelompok Rakit menetap di Hutan Panjang, di bagian barat sungai Selat Morong (Kecamatan Rupat).

Sebagian kelompok masyarakat asli yang semula tinggal di Desa Titi Akar kemudian menyebar ke Batu Panjang dan Kampung Rampang tidak jauh dari tepi pantai.

Kini untuk menuju ke Desa Hutan Panjang tidak hanya ditempuh melalui sungai Selat Morong. Misalnya jika berangkat dari Batu Panjang, ibukota Kecamatan Rupat atau Tanjung Medang, ibukota Kecamatan Rupat Utara dapat ditempuh melalui jalan darat melewati jalan-jalan desa atau perkebunan.

Kini tidak lagi dijumpai rumah-rumah panggung di tepian sungai, meskipun tidak jarang masyarakat menceritakan adanya bekas-bekas perkampungan di tepian sungai maupun makam-makam lama yang dipindahkan dari tepi sungai.

Cerita soal makam, di Rupat Utara ada kisah cerita masyarakat tentang sejarah Makam Puteri Sembilan yang terkenal dengan kecantikannya. Makam ini terdapat di Desa Kadur. Alkisah, banyak bangsawan terpikat membawa wanita tempatan untuk dijadikan selir.

Ketika kapal saudagar berlabuh di Pulau Rupat, warga sangat khawatir jika sembilan orang putri yang masih turunan Siak akan dibawa oleh para saudagar. Para bangsawan sering kali membuat onar dan sering terlibat perkelahian hanya gara-gara wanita.

Lalu, salah seorang warga berusaha menyembunyikan sembilan orang putri itu di dalam sebuah sumur serta dibuat lobang sebagai sarana pernapasan. Namun sayang, ketika para bangsawan pergi, warga itu lupa mengeluarkan kesembilan putri tersebut. Akhirnya mereka tewas terkubur dalam lobang itu.

"Cerita ini berawal dari mulut ke mulut dan diceritakan kembali oleh orang tua di Rupat. Namun beberapa waktu lalu, karena melihat Makam Puteri 9 bisa dijadikan objek wisata, Mantan Bupati Bengkalis, Ir H Herliyan Saleh bersama seluruh jajaran SKPD di Pemerintah Kabupaten Bengkalis datang khusus berziarah di Makam Puteri 9," kata Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Bengkalis, H Eduar MPsa kepada GoRiau.com, Senin (21/3/2016).

Saat ziarah ke sana, lanjut Eduar, ada paranormal yang sengaja didatangkan dari Sumatra Utara untuk membantu semua yang hadir di Makam Puteri sembilan bisa mendengar langsung cerita sembilan puteri yang meninggal serentak itu. Kedatangan paranormal ini juga atas permintaan Puteri Sulung dari yang sembilan Puteri itu.

"Saat berada disekitar makam, siapapun wajib menjaga pantangan yang sudah dibuat oleh ke sembilan Puteri turunan Siak ini. Seperti halnya, saat memasuki areal makam yang sudah dipagari, peziarah wajib membuka alas kaki sebagaimana kita masuk kerumah sendiri. Selain itu juga, peziarah dilarang meminta kaya, dan lainnya saat berziarah karena itu syirik. Puteri sembilan akan marah jika peziarah tidak mengikuti aturan yang dibuatnya tersebut," jelas Eduar lagi.

Disekitar makam Puteri sembilan ini, banyak fenomena alam yang memiliki cerita mistis. Pertama, batu nisan sembilan Puteri yang pertama tidak tersusun dan sudah disusun sesuai keinginan Puteri sulung itu bisa berubah-ubah lagi posisinya.

Kedua, setiap hari Puteri Sulung yang mendapat mandat menjaga Pulau Rupat Daratan ini menabur bunga pada sumur tua yang kedalamannya hanya 1 meter namun tidak pernah kering. Disumur itu dulu ada warga yang meninggal usai meminum air sumur dangkal itu. Meninggal bukan karena air sumur mengandung racun, melainkan orang tersebut dihukum atas perbuatannya yang meninggalkan salat demi memuaskan nafsu duniawi.

Ketiga, di anak sungai kecil dekat sekitar Makam juga ditaburi bunga setiap hari oleh Puteri Sulung. Alasannya karena di sungai itu juga ada roh. Dimana saat itu ada nelayan yang serakah saat menjala lokan (kerang) disungai tersebut. Nelayan itu terlalu gembira banyak mendapatkan lokan, sehingga lupa dengan waktu solat meskipun adzan magrib sudah berkumandang. Di sungai itu yang tenggelam bersama lokan yang sudah dikemas dalam karung.

"Ketika Puteri Sulung itu bercerita, dia juga melakukan beberapa ritual seperti menabur bunga pada sumur dangkal yang tidak pernah kering dan sungai kecil yang banyak lokan. Katanya ada roh yang pergi didua tempat itu, mereka adalah orang-orang yang serakah dan meninggalkan salat," ulas Eduar lagi yang masih ingat betul cerita Puteri sulung yang saat itu diminta untuk bercerita sejarah hidupnya melalui paranormal.

Keempat, fenomena alam lainnya yang membuat takjub adalah, disekitar makam terdapat pasir seperti butiran kristal dengan berbagai warna, coklat dan putih. Pasir ini mengundang perhatian masyarakat sekitar. Sebab sepanjang jalan dari pemukiman warga sekitar yang mayoritas suku Akit itu hingga ke area pemakaman masih berlumpur.

" Ceritanya, yang dulu meninggal setelah minum air sumur dangkal itu adalah, orang yang sebelumnya mengambil pasir disekitar makam dan juga lupa waktu salat. Siapa yang melanggar pantangan dan merusak lingkungan sekitar pemakaman akan mendapatkan kesialan dalam hidupnya. Hingga kini tidak adalagi warga setempat yang datang ke komplek Makam untuk mengambil pasir dan lokan pada anak sungai itu," terang Eduar yang mengingat satu persatu cerita Putri Sembilan.

Dikatakan Eduar, untuk mendapatkan cerita Puteri sembilan ini sangat sulit. Sang Puteri awalnya menolak bercerita sesuai pesan sang ayahanda. Menurut sang ayahanda, biar cerita itu hilang dimakan masa. Namun dengan negosiasi yang panjang dan tujuannya adalah untuk pengetahuan sejarah, alhasil sang Puteri mendapatkan ijin dari ayahanda nya untuk menceritakan kisah Makam Sembilan Puteri.

"Tugas Puteri Sulung ini adalah menjaga Rupat Daratan, sedangkan Puteri Bungsu menjaga Pantai Rupat dan laut sekitarnya. Nelayan yang biasa melaut juga selalu diingatkan agar tidak merusak ekosistem laut. Jika itu dilanggar, maka Puteri Bungsu juga akan berang dan membuat nelayan tidak akan mendapat ikan seperti biasanya," jelas Eduar yang berencana akan membuat buku sejarah Makam Puteri Sembilan agar kedepannya bisa masukan dalam pelajaran sejarah di Riau.

Makam Puteri Sembilan ini, lanjut Eduar, setiap hari dibersihkan oleh penjaganya yang sudah diberi honor oleh Pemkab Bengkalis. "Membersihkan makam itu juga atas permintaan Puteri Sulung, karena ia ingin tempat istirahat mereka itu bersih," tutup Eduar. (*/rha)