
SELATPANJANG, GORIAU.COM - Ketua Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) Kabupaten Kepulauan Meranti, Grace SAg, menjelaskan makna perayaan Imlek. Menurutnya, berdasarkan buku yang dikeluarkan PSMTI Provinsi Riau tentang mengenal Budaya Tionghoa, maka perayaan Imlek bisa diartikan dengan 3 makna.
Sebagaimana diungkapkan Grace, ketika ditemui di Selatpanjang, Kamis (23/1/2014). Menurut Grace, perayaan menyambut tahun baru Imlek atau Guo Xin Nian sudah menjadi catatan historis sekitar tahun 4.650 tahun lalu sejak kerajaan Dinasti Tiongkok pertama. Penetapan penanggalan Imlek ini dulunya dikenal dengan He Lek, yaitu penanggalan Dinasti Xia (2100-1600 SM) yang memperkenalkan sistem penanggalan berdasarkan solar (matahari).
"Maka Imlek jatuh pada musim semi. Di Indonesia kita merayakan Hari Raya Imlek ke 2565/2014 dihitung sejak 551 SM, yang diambil dari tahun kelahiran Khong Hu Cu penanggalan Imlek sebenarnya Imyanglek atau Lunisolar, yaitu sistem peredaran bulan dan matahari," kata Grace kepada GoRiau.com,.
Ditambahkan Grace lagi, setiap tanggal 1 bulan 1 atau Zheng Yue Chu Yi tanda dimulainya perhitungan tahun baru imlek dari budaya Cap Ji Shio atau Chinese Horoscopes adalah kebiasaan suku Tionghoa yang menetapkan tahun Imlek dengan 12 jenis binatang, yaitu tikus, kerbau, barimau, kelinci, naga, ular, kuda, kambing, monyet, ayam, anjing, dan babi.
Lebih jauh dikatakan Grace, tahun baru Imlek disebut juga Nong Li (penanggalan Petani), karena Imlek muncul dari tradisi masyarakat agraris Tiongkok. Penanggalan ini sangat cocok bagi petahi dengan dimulainya perhitungan musim, peredaran matahari serta iklim. Pertukaran tahun baru imlek member makna harapan baru untuk masa depan yang lebih baik.
"Pertukaran Tahun Baru Imlek bagi masyarakat suku Tionghoa sangan penting sebagai momen untuk meningkatkan kualitas dan martabat kehidupan secara spiritual dan sosial dengan memaknainya, makna spiritual dan psikologis. Sosial kemasyarakatan, dan makna ganda," katanya lagi.(zal)