PEKANBARU - Anakan hewan langka berjenis Leopard yang sebelumnya diamankan Polda Riau dari perdagangan satwa liar dan dititip ke Kebun Binatang Kasang Kulim diketahui mati sejak Jumat (31/1) lalu.

Berdasarkan hasil Nekropsi (pembedahan), diketahui hewan malang tersebut menderita penyakit Panleukopenia yang disebabkan virus bernama Parvovirus. Dokter yang menangani hewan tersebut, Rini Deswita mengatakan, Parvovirus memang lazim ditemukan pada hewan yang termasuk famili Felidae (kucing-kucingan).

"Hasil Nekropsi, Leopard menderita Panleukopenia karena terjangkit Parvovirus. Virus ini berkembang karena daya tahan tubuh lemah, biasanya menyerang pencernaan dan lebih jauh ke pernafasan," ujarnya ketika dikonfirmasi GoRiau.com, Senin, (3/2/2020).

"85 persen satwa kucing akan mati jika terjangkit virus ini," tambahnya.

Lebih lanjut Rini menjelaskan, kondisi anakan Leopard ini memang menurun pada tanggal 31 Januari, menjelang kematianya. Meski pihaknya sudah melakukan berbagai upaya, namun anakan Leopard tersebut akhirnya tidak tertolong pada sore harinya pukul 17.30 WIB.

"Tanggal 31, kondisinya menurun, ditandai dengan nafsu makan kurang dan muntah. Hari itu juga kita melakukan tindakan medis, diantaranya memberikan cairan infus untuk dehidarasi dikarenakan cairan tubuhnya yang hilang, obat-obatan untuk daya tahan tubuh, antibiotik dan anti muntah," jelasnya.

"Tetapi kondisinya semakin lemas. Pukul 17.00 WIB kondisinya menurun, lemas, dan sesak nafas. Pukul 17.30 WIB kemudian mati," terangnya.

Kepada wartawan Rini juga menjelaskan, Parvovirus bisa menular dari mana saja. Ia juga mengatakan, ada kemungkinan virus ini ditularkan oleh Singa yang juga ada dilokasi anakan Leopard tersebut.

"Kalau kondisi kandang kita lihat cukup bersih, tapi virus ini bisa menular dari kotoran, air ludah atau bahkan udara. Disanakan juga ada Singa, Singa ini oleh kita terindikasi Parvovirus, tetapi berhasil kita selamatkan dan kondisinya baik-baik saja, tapi bisa saja Leopard tertular dari situ," pungkasnya.***