
PASIR PENGARAIAN, GORIAU.COM - Musim kemarau sejak sebulan terakhir menyebabkan produksi buah sawit petani di Rokan Hulu (Rohul), Riau mengalami penurunan drastis atau trek. Meski saat ini harga buah sawit mengalami kenaikan yang cukup tinggi, namun penghasilan petani tetap jauh merosot karena produksi sawit yang merosot.
Petani sawit di Desa Menaming, R Siregar mengatakan, sekarang harga sawit naik sekitar 50 persen. Seharusnya petani untung besar. Tapi yang terjadi malah sebaliknya, karena produksi buah merosot hingga 70 persen.
Siregar yang memiliki kebun sawit 42 hektar mengaku, selama ini kebunnya bisa menghasilkan sekitar 28 ton bersih setiap kali panen, tapi sekarang cuma bisa 9 ton.
''Buah sawit pun tak ada, putiknya habis gugur, sudahlah kering ringan pula timbangannya. Kita jadi bingung, kalau seperti ini bagaimana mau mengasih makan anggota dan pekerja kita,'' keluh Siregar.
Petani sawit lainnya, Imam Daulay di Desa Pawan, Rambah Tengah Hulu mengatakan, gara-gara treknya buah sawit saat ini, tia erpaksa menyuruh pulang anaknya yang kuliah di Pekanbaru.
''Macam manalah, tak sanggup lagi kita membiyainya. Dalam satu hektar bisanya bisa dapat 1 ton buah sawit, atau paling sikit 800 kilo lah. Sekarang cuma dapat 200 kilo, paling tinggi 300 kilo per hektar,'' katanya.
Diakui Imam, sekarang memang harga sawit sedang tinggi, bisa hingga Rp 2000 per Kg. Tapi karena buah yang dihasilkan sangat sedikit, akhirnya penghasilan pun sangat jauh berkurang.
''Jangan buah, bunganyaa pun tak ada. Apa yang mau dipanen? Biasanya kalau sudah ada yang masak, di atasnya pun masih ada bauh yang mengkal. Sekarang, kalau sudah dipanen, bunga pun tak nampak lagi,'' ujar pemilik 2 hektar kebun sawit ini.(srt)