BENGKALIS, GORIAU.COM - Para guru di Kabupaten Bengkalis resah karena sampai saat ini mereka belum menerima insentif. Padahal, sebagian besar mereka menggantungkan hidupnya dari insentif karena untuk gaji sudah dipergunakan untuk membayar utang.
''Insentif Oktober kami belum terima lagi. Sekarang sudah masuk pula bulan Desember. Tak biasanya terlambat bayar,'' ujar salah seorang guru SMA, A Munir kepada wartawan, Kamis (11/12/2014).
Dengan keterlambatan pembayaran insentif tersebut, dirinya dan mungkin sebagian besar guru di Bengkalis merasa risau. Apalagi berkembang isu kalau keterlambatan tersebut terjadi lantaran anggaran untuk pembayaran insentif guru sudah habis.
''Tolong minta bantu tanyakan ke Dinas Pendidikan, apa betul isu tersebut. Soalnya kami tak habis pikir juga, macam mana anggaran insentif habis. Apa mungkin dananya dipakai untuk membayar yang lain,'' ujar pria yang sehari-hari bertugas di SMAN 3 Bengkalis tersebut.
Hal senada diungkapkan Siti, yang berprofesi sebagai guru SD. Sejak keterlambatan pembayaran insentif, dirinya terpaksa mengencangkan ikat pinggang demi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
''Terpaksa karena SK dah saya sekolahkan untuk buat rumah. Kalau terima (gaji,red) pun tinggal sikit. Insentif inilah yang jadi tumpuan untuk membantu belanja kebutuhan sehari-hari. Sekarang terlambat pula, pening jadinya,'' keluh Siti.
Kadis Pendidikan Bengkalis saat dikonfirmasi melalui Sekretaris Disdik, HM Nor Alamsyah mengatakan, memang saat ini terjadi keterlambatan bayar insentif terhadap guru-guru. Keterlambatan tersebut terjadi lantaran anggaran untuk pembayaran insentif kurang. Namun, Alamsyah buru-buru menegaskan bahwa kekurangan tersebut bukan lantaran dananya dipakai untuk kegiatan lain. ''Kalau ada isu seperti itu sama sekali tidak benar,'' katanya.
Saat ditanya mengapa anggaran untuk pembayaran insentif bisa tidak mencukupi, mantan Sekretaris BKD ini mengatakan, hal itu dikarenakan adanya guru-guru yang golongannya naik sehingga insentifnya pun ikut naik. ''Saya tak hafal berapa orang yang naik golongan ni, tapi memang besarnya insentif berdasarkan golongan. Kalau golongan naik, sementara anggarannya tetap maka tentu dana yang ada tak cukup lagi,'' katanya.
Masih menurut Alamsyah, memang sulit diprediksi berapa jumlah guru yang golongannya naik sehingga anggaran untuk pembayaran insentif bisa dibesarkan. Antisipasi untuk itu biasanya dilakukan dengan melakukan penyesuaian di APBD perubahan. ''Seperti kita ketahui, untuk tahun 2014 ini kan tidak ada APBD perubahan. Sehingga kekurangan dana yang ada tidak bisa kita tutup,'' ujarnya.
Saat ini pihaknya sedang mencarikan solusi terkait dengan kekurangan dana untuk pembayaran insentif tersebut. ''Kalau tahun in tidak bisa kita bayarkan, maka akan kita anggarkan pada tahun 2015 mendatang,'' ujarnya.(jfk)