
JAKARTA – Gubernur Riau, Abdul Wahid, meminta dukungan penuh dari Kementerian Perindustrian untuk mempercepat hilirisasi industri berbasis sumber daya alam lokal, khususnya sawit dan migas, yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi Riau. Permintaan itu disampaikan Wahid dalam audiensi bersama Wakil Menteri Perindustrian, Faisol Riza, di Jakarta, Rabu (7/5/2025).
Menurut Wahid, Riau memiliki posisi geografis strategis yang berbatasan langsung dengan jalur perdagangan tersibuk kedua di dunia, yakni Selat Malaka. Namun, pemanfaatan posisi ini masih minim untuk mendongkrak perekonomian daerah.
“Kita punya potensi besar, tapi hasilnya banyak dinikmati negara lain seperti Singapura dan Malaysia. Sementara kita belum sepenuhnya mendapat manfaat,” jelas Wahid.
Ia menyoroti perkebunan kelapa sawit yang mencapai 4 juta hektare, tetapi hanya sekitar 1,2 juta hektare yang memiliki izin resmi. Perkebunan ilegal, sebutnya, tidak memberikan kontribusi berarti bagi pendapatan daerah.
Komoditas lain seperti kelapa, pinang, dan sagu juga dinilai belum mendapat perhatian maksimal dari sisi industri pengolahan. Ia mencontohkan, sagu dari Kepulauan Meranti justru dikirim ke luar daerah seperti Cirebon untuk diolah, tanpa memberi nilai tambah di daerah asal.
“Saat harga murah, masyarakat kecewa karena tidak ada perlindungan. Saat harga naik, justru muncul isu ekspor dibatasi. Ini yang perlu ditata kembali,” urainya.
Wahid juga menyampaikan bahwa industri pengolahan hasil hutan baru sampai pada tahap produksi rayon. Padahal, pengembangan produk akhir seperti tekstil akan memberi dampak ekonomi yang jauh lebih besar.
“Kami ingin agar industri tidak jauh dari sumber bahan baku. Kalau hilirisasi dilakukan di daerah, ekonomi lokal akan tumbuh,” tegas Wahid.
Terkait sektor migas, Wahid mengakui bahwa produksi mulai menurun, sehingga hilirisasi industri lain seperti sawit harus menjadi prioritas. Riau, sebutnya, memproduksi 10 juta ton CPO per tahun, namun sebagian besar proses hilirisasinya masih dilakukan di luar provinsi.
“Kami tengah siapkan kawasan industri Kuala Enok untuk hilirisasi sawit. Tapi kami butuh dukungan pusat agar bisa sampai ke produk akhir,” kata Wahid.
Menanggapi hal itu, Wakil Menteri Perindustrian, Faisol Riza, menyampaikan dukungan penuh terhadap rencana hilirisasi yang diusulkan Pemprov Riau. Ia berjanji akan meneruskan pembahasan dengan jajaran Dirjen di lingkungan Kemenperin.
“Semua usulan sudah kami catat. Riau adalah daerah yang kaya sumber daya dan layak menjadi kawasan unggulan industri pengolahan. Kami akan fasilitasi dan komunikasikan secara teknis agar segera terwujud,” ujar Faisol. ***