
PEKANBARU - Pembangunan Gedung Pusat Khazanah Arsip di Pekanbaru menjadi tonggak penting bagi Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) sekaligus disambut antusias oleh Pemerintah Provinsi Riau. Kehadiran gedung ini diharapkan mampu menjawab keterbatasan ruang penyimpanan arsip sekaligus menjadi pusat literasi sejarah Melayu. Acara peletakan batu pertama atau groundbreaking berlangsung pada Senin (8/9/2025) di Jalan Adi Sucipto, Marpoyan Damai, Pekanbaru.
Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispersip) Provinsi Riau, Mimi Yuliani Nazir, menilai gedung ini akan melengkapi fungsi Perpustakaan Soeman HS yang telah dikenal sebagai pusat literasi budaya Melayu. Dengan adanya pusat arsip, masyarakat akan memiliki ruang berbeda untuk mengakses literasi dan sejarah.
“Ini sejalan. Nanti kalau kita bercerita tentang literasi, masyarakat bisa ke Perpustakaan Soeman HS. Tapi kalau kita bercerita tentang kearsipan, kita bisa melihat gedung khazanah yang ada di sini, yang nanti tentu ada diorama dan lain-lainnya,” ujar Mimi.
Mimi menambahkan, antusiasme instansi vertikal di Riau untuk menyerahkan arsip mereka sangat tinggi. Namun, kapasitas depo arsip yang terbatas membuat banyak dokumen belum bisa ditampung. Beberapa lembaga, termasuk Pengadilan Tinggi Negeri Riau, bahkan sudah melakukan akuisisi arsip dan menitipkannya ke pemerintah provinsi.
“Kami mempunyai depo arsip tidak terlalu luas memang, dan karena itu merupakan suatu amanah, kita akomodir dan sudah dilaksanakan. Masih ada instansi kementerian lainnya yang akan menyusul. Kami meminta untuk bersabar karena nanti akan ada depo arsip yang lebih luas,” tutur Mimi.
Gedung pusat khazanah ini diharapkan tidak hanya menjadi ruang penyimpanan arsip, tetapi juga pusat edukasi sekaligus wisata sejarah. Melalui diorama, masyarakat bisa menelusuri perjalanan budaya Melayu dan sejarah Riau dalam konteks kebangsaan.
Plt. Kepala Bidang Akuisisi Arsip Dispersip Riau, Khairiansyah, menyambut baik dimulainya pembangunan ini. Menurutnya, gedung tersebut akan sangat membantu dalam mengelola arsip-arsip penting, khususnya khazanah Melayu yang selama ini membutuhkan perhatian lebih.
“Ini bukan sekadar penyediaan gedung baru, tapi merupakan lompatan besar bagi pelestarian warisan budaya kita. Arsip-arsip yang selama ini tersimpan akan lebih terjamin keamanannya dan lebih mudah diakses oleh masyarakat,” kata Khairiansyah kepada Goriau.
Dari sisi perencanaan, pembangunan gedung ini merupakan hasil proses panjang sejak 2020. Pemerintah Provinsi Riau telah menghibahkan tanah seluas 8.125 meter persegi di Pekanbaru kepada ANRI pada 8 Juli 2020. Setelah menunggu lima tahun, pembangunan tahap pertama akhirnya dapat direalisasikan.
Sekretariat Utama ANRI, Rini Agustiani, menjelaskan bahwa gedung tersebut akan digunakan untuk menyimpan arsip khazanah Melayu dan arsip statis milik instansi pusat yang ada di Riau. Lokasi gedung di Jalan Adi Sucipto juga dirancang sebagai depot arsip berkelanjutan yang dapat menampung arsip instansi vertikal yang selama ini tidak memiliki ruang penyimpanan memadai.
“Jadi ini sudah menunggu lima tahun kita baru bisa mengeksekusi untuk bisa kita manfaatkan,” ujar Rini Agustiani.
Awalnya, gedung direncanakan berlantai empat dengan luas 6.127 meter persegi. Namun karena adanya kebijakan efisiensi, pembangunan dilakukan bertahap. Tahap pertama memprioritaskan pembangunan gedung penyimpanan arsip seluas 600 meter persegi dengan kontraktor CV Bulat Air, konsultan pengawas CV Sinergi Lestari, dan PT Daya Cipta Kreasi. Anggaran 2025 sebesar Rp6,6 miliar telah dialokasikan, sedangkan kelanjutan pembangunan 2026 diperkirakan menelan biaya sekitar Rp60 miliar.
“Pada tahap pertama ini dibangun depot arsip khusus khazanah seluas 600 meter persegi, dengan nanti dilanjutkan di tahun 2026 dua tahap pembangunan ini, yaitu gedung deposit dan gedung diorama untuk layanan khazanah arsip,” jelas Rini.
Ke depan, pusat arsip ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat penyimpanan, melainkan juga pusat penelitian, pengembangan budaya, dan dokumentasi kearifan lokal. Gedung tersebut diharapkan mampu menjaga tradisi, adat istiadat, serta peristiwa bersejarah agar tetap lestari di tengah arus modernisasi. ***