SIDNEY, GORIAU.COM - Akibat tempat bermain gajah di Riau khususnya di Taman Nasional Bukit Tigapuluh semakin hancur, lima gajah dari lokasi ini diadopsi pihak Australia. Lima gajah yang diberinama Anna, Bella, Cinta, Dadang dan Elena ini kini masuk sebagai bagian proyek konservasi untuk menyelamatkan gajah-gajah Asia.

“Karena habitat mereka hilang, konflik dengan komunitas lokal meningkat, menyebabkan kematian di kedua pihak,” ujar Cocks, pegiat konservasi dari International Elephant Project, Jumat (22/3/2013) di Sydney.

Anna, Bella, Cinta, Dadang dan Elena adalah lima gajah yang berasal wilayah Bukit Tigapuluh, di antara provinsi Jambi dan Riau. 

''Penebangan hutan di Sumatra menyebabkan para gajah diracun warga desa yang ingin melindungi tanaman mereka dari satwa-satwa yang kelaparan tersebut, Kondisi gajah-gajah Asia jauh lebih kritis daripada gajah Afrika karena jumlahnya lebih sedikit,'' ujar Leif Cocks, salah satu pendiri proyek tersebut.''Di sini mereka memungkinkn untuk tetap hidup di alam liar,'' jelasnya. 

Gajah-gajah pertama yang menjadi fokus saat ini adalah gajah Sumatra, yang memang sangat terdesak. Ada 1.200 sampai 1.600 maksimum yang tersisa di alam liar, dan mereka populasi yang terfragmentasi.

Sedangkan mengenai lima gajah yang bisa “diadopsi” itu merupakan bagian dari kumpulan yang berbeda di wilayah Bukit Tigapuluh, di antara provinsi Jambi dan Riau, yang mengalami deforestasi yang pesat akibat pembukaan perkebunan kelapa sawit dan penebangan kayu untuk kertas. Saat ini, masing-masing gajah dilengkapi dengan kalung GPS, agar dapat dimonitor keberadaan dan gerakannya.

Kalung tersebut juga membuat pekerja proyek ini mengetahui kapan gajah-gajah tersebut mendekati wilayah berpenduduk dan memungkinkan untuk menghalau mereka sebelum masalah muncul. Adopsi mulai dari A$65 (sekitar Rp 670.000) dan termasuk kabar terbaru yang rutin dikirim mengenai tiap gajah lewat data GPS.

Satwa yang terancam keberadaannya di Sumatra adalah harimau. Dalam 70 tahun terakhir, harimau Bali dan harimau Jawa telah punah. (reuters)