
PEKANBARU - Provinsi Riau merupakan daerah yang teraliri sungai dari mulai Kampar, Siak, Kuantan dan Indragiri. Namun nasib masyarakatnya tidaklah selancar air sungai yang mengalir, dimana kemiskinan dan masih belum seluruhnya masyarakat menikmati hasil pembangunan, membuat para tokoh melayu di Riau bersatu saling bergandengan tangan membentuk Perkumpulan Anak Melayu Riau.
Bagi Ketua Umum Peran Melayu Riau Emrizal Pakis, dirinya beserta dengan para tokoh, para pakar ingin mengangkat derajat dan martabat masayarakat Riau bersama sama dengan pemerintah dan semua ormas yang ada.
"Ormas ini bukan untuk gagah-gagahan dan bukan juga organisasi tandingan bagi organisasi melayu lainya. Tapi organisasi ini lahir sebagai bentuk keprihatinan parah tokoh dan para pakar di Riau yang masih menganggap di negeri kaya akan sumber daya alam, namun masih banyak masyarakatnya yang miskin," tutur Emrizal Pakis kepada GoRiau.com, Rabu (20/01/2015).
Masih menurut Emrizal, meskipun pihak pemerintah sudah berupaya untuk mengikis jumlah masyarakat miskin, namun beberapa tokoh masih menganggap perlu membantu pihak pemerintah dalam memerangi kemiskinan dan pemerataan pembangunan di bumi melayu Riau.
"Dalam pelaksanaanya nanti, kita akan menggandeng semua organisasi masyarakat baik dari ormas melayu maupun ormas lainya. Kalau ada yang beranggapan bahwa organisasi kita adalah saingan atau tandingan LAM dan bertujuan untuk kepentingan politik, itu tidak lah benar, "jelasnya lagi.
Bahkan menurutnya, jika semua pihak bersatu dan bekerjasama, tidaklah sulit bagi Provinsi Riau dalam menjalankan visi misi pada 2020, serta dalam menghadapi pasar bebas (MEA). "Apabila kita saling bahu membahu, satu visi misi maka rencana tersebut nantinya akan tercapai dengan mudah. Dan guna menjalankan roda organisasi nantinya Peran Melayu Riau akan membentuk kepengurusan daera di 12 Kabupaten/Kota di Riau," tukasnya.
Provinsi Riau bagi Emrizal, kedepan tidaklah bisa hanya berpangku tangan dan bergantung pada sektor migas serta perkebunan. Karena menurutnya keberadaan lahan yang semakin sempit, serta turunya harga minyak dunia, membuat Riau harus beralih mengandalkan sektor ekonomi kreatif melalui Dinas Pariwisata dan ekonomi Kreatif serta Dinas Kebudayaan.
"Apalagi pak Gubernur juga sudah mengatakan, bahwa Riau kedepan sudah harus memikirkan sektor pariwisata, kita tidak bisa terlalu terbuai dengan sektor migas. Beliau juga sudah berencana akan mendirikan Dinas Kebudayaan terpisah supaya kebudayaan melayu benar-benar bisa terjaga dan berkembang," ucap Emrizal yang juga Ketua KONI Riau ini.
Riau sebagai Provinsi yang memiliki slogan The Homeland Of Melayu, harus benar-benar didukung penuh oleh masyarakat melayu. "Jika kita bicara soal Melayu, sudah barang tentu yang mengerti dan menjiwai adalah orang melayu, anak melayu itu sendiri. Maka kita sebagai orang melayu, bangsa melayu dan organisasi melayu, akan melengkapi terhadap ormas-ormas melayu yang sudah ada terlebih dahulu," pungkasnya.***