
PEKANBARU, GORIAU.COM - Selain bawang merah, harga sembako mulai merangkak naik. Namun, cabe merah sudah lebih duluan meroket di pasaran Kota Pekanbaru Riau. Hal itu kini tengah menjadi 'kicauan' bagi ibu-ibu rumah tangga di Kota Bertuah ini.
Pantauan media ini di pasar tradisional, Cik Puan Pekanbaru, Kamis (9/5/2013) sore, sejumlah pedagang mengeluh karena jualannya kurang laku. Terlihat setumpukan cabe merah masih menghiasi lapak para pedagang di pasar itu.
"Seminggu lalu harga cabe naik, dari Rp24 ribu perkilogramnya, kini mencapai Rp44 ribu per kilogramnya. Paling mahal cabe dari Bukittinggi," ujar Tini, seorang pedagang di pasar itu.
Diakuinya, akibat meroketnya harga cabe membuat barang dagangannya tidak laku terjual. Biasanya pelanggan membeli banyak, sekarang hanya sedikit-sedikit saja. Hal ini juga mempengaruhi omzet Tini perhari.
"Untuk cabe ya menurunlah, biasanya bisa habis sekarang udah sore masih banyak. Belum lagi besok pasti ada yang busuk. Inilah pedagang barang harian," ujarnya.
Dia mengaku tak tahu kenapa harga tiba-tiba meroket. Naiknya harga cabe juga berbuntut terhadap barang kebutuhan pokok lainnya, seperti beras asal Payakumbuh mulai naik tipis. Biasanya dijual Rp9,5 ribu perkilo kini menjadi Rp10 ribu perkilogramnya. Begitupun telur ayam ras asal Payakumbuh, dulu hanya Rp 25 ribu perpapan, kini sudah naik menjadi Rp28-30 ribu per papannya.
"Minyak goreng dan gula juga dikabarkan akan naik, jadi tolonglah sama pemerintah agar barang tidak mahal, sehingga banyak orang membeli barang dagangan kami," ujar Tini berharap ke pemerintah.
Hal yang sama juga di sampaikan Lela. Pedagang asal Pariaman ini mengaku kurang berjual beli pada Kamis ini. Sebab, para pelanggannya banyak yang belanja di kaki lima di pagi hari.
"Ini karena ada kebaikan, apalagi cabe yang drastis sekali naiknya," ujar perempuan separuh baya itu.
Dia berharap, agar pemerintah bisa mengontrol harga-harga sehingga tidak membebani pedagang kecil.(kha)