
PEKANBARU - Meski sempat dua kali gagal test masuk kepolisian, namun akhirnya anak petani di Kabupaten Rohil bernama Bripda M Taufik (20), justru menjadi lulusan terbaik dari 203 orang brigadir yang dilantik di Sekolah Kepolisian Negara (SPN) Polda Riau, Senin (2/3/2020).
Pelantikan yang berlangsung sejak pukul 09.00 WIB di aula SPN Polda Riau yang berada di kilometer 27, Jalan Raya Pekanbaru-Bangkinang.
Pelantikan 203 brigadir polisi dua (Bripda) atau bintara tingkat satu di Polri ini dipimping langsung Kapolda Riau, Irjen Pol Agung Setya Imam Effendy serta dihadiri pejabat di Polda Riau dan jajarannya.
Pantauan GoRiau di lapangan, tampak ada tiga orang polisi berpangkat Bribda yang dipanggil kedepan pada acara penutupan pendidikan dan pembentukan 203 Bintara Polri Tahun Anggaran 2019/2020 karena mendapat predikat terbaik dari 203 Bintara yang dilantik. Salah satunya adalah seorang anak petani karet bernama Bripda M Taufik.
Saat dipanggil pakai pengeras suara, terdengar pembawa acara menyebutkan profesi ayah M Taufik adalah seorang petani sederhana di Rohil, sehingga membuat para hadirin yang mendengar langsung terlihat simpatik kepada M Taufik dan orang tuanya. Air mata pun jatuh dari sudut mata M Taufik saat dihampiri orang tuanya di gedung aula SPN Polda Riau.
Kapolda Riau kemudian mengalungkan medali kepada M Taufik sebagai siswa paling tangguh, lincah, tahan dan terampil atau Trengginas dengan nilai 84,79, dengan penempatan di Mabes Polri.
Ayah M Taufik yang bernama Hasidin (48) mengaku sangat bangga dan berharap M Taufik dapat menjalankan tugas dengan amanah dan bertanggungjawab kepada bangsa dan negara sebagai petugas kepolisian.
"Ya gimana saya bilangnya ya, intinya mengucapkan syukur kepada yang maha kuasa, atas rahmatnya yang diberikan kepada keluarga kami. Kami ini hanya petani karet, dan kemarin itu tidak ada bayar saat dia masuk. Saya berharap semoga Taufik dapat menjalankan tugas dengan baik, sesuai dengan yang diikrarkannya saat pelantikan tadi," ujar Hasidin kepada GoRiau.com.
M Taufik merupakan anak kedua Hasidin. Ia bertipe bertanggungjawab dan rajin menjalankan perintah agama, dalam hal itu M Taufik sebelum menjadi polisi sangat aktif pada kegiatan keagamaan di mesjid.
"Alhamdulillah keseharian Taufik itu bisa jadi panutan dalam keluarga, dan orang banyak juga mengakui itu. Dia juga selalu ikut dalam pembacaan petuah Jum'at di masjid," tutup Hasidin.
M Taufik saat diwawancarai GoRiau.com usai pelantikan mengaku sangat bahagia dan merasa usaha yang dilakukan selama ini tidak sia-sia. Sebab dirinya sempat gagal masuk polisi sebanyak dua kali, dan ketiga kalinya baru lulus dengan bonus mendapatkan predikat Trangginas pada angkatannya.
"Alhamdulillah saya bersyukur kepada Tuhan yang maha kuasa, karena telah mempercayai saya mendapatkan predikat Trengginas dengan nilai 84,79 dari 203 orang peserta yang dilantik. Ini adalah tes ketiga saya masuk polisi, sebelumnya saya sempat gagal sebanyak dua kali, dan ini kemarin saya pada peringkat 10 saat lulus tes," ungkap Taufik.
Terpisah Kapolda Riau, Irjen Pol Agung Setya Imam Effendy mengatakan, ada sebanyak 203 bintara remaja yang telah menyelesaikan pendidikan tahun anggaran 2019-2020. 152 orang diantaranya akan ditempatkan di Polda Riau dan yang lain ditempatkan di Mabes Polri, Brimob, Samapta, Shabara, Densus, Yanma dan Litbang Polri.
"Kita mengharapkan mereka bisa berkarir di Mabes Polri dan di Polda dengan baik. Hari ini mereka tidak lagi menjadi remaja, mereka adalah Bintara remaja, polisi remaja yang melayani masyarakat. Mulai hari ini mereka tidak lagi dilayani orang tua, tapi yang melayani masyarakat. Kita ingin melihat Bintara kita yang milenial melayani masyarakat yang milenial, dan masyarakat pada umumnya," tegas Kapolda Riau.
Kemudian jendral bintang dua itu menyinggung tiga orang Bintara yang menerima predikat terbaik, salah satunya M Taufik yang mendapatkan predikat Trengginas.
"Ya tadi kita melihat ada yang Trengginas itu adalah anak petani yang memiliki mental dan kepribadian baik. Ia adalah anak seorang petani di Riau. Itu artinya petani kita telah menunjukkan bahwa dia telah mendidik anaknya menjadi yang terbaik, mendidik itu tidak bisa satu hari, dua hari, itu pasti dari proses sejak dia kecil. Dan itulah yang kita rekrut, sekarang dia sudah lulus, dan kita semua menunggu darma bakti dia untuk melayani masyarakat," tutup Agung. ***