SELATPANJANG, GORIAU.COM - Dua orang guru Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 1 Tebingtinggi Kepulauan Meranti, Riau, Aida dan Isniwati berhasil menemukan cara mengolah limbah sambah menjadi Bahan Bakar Minyak (BBM) menyerupai bensin.


Hal itu sebagaimana diungkapkan Wakil Kepala SMK N 1 Tebingtinggi, Rosidah. Kata Rosidah, pembuatan BBM dari limbah sampah iu melalui proses yang sangat sederhana. Kata Rosidah pula, untuk satu kilogram sampah plastik dapat menghasilkan tujuh ons minyak mentah.
Dijelaskan Rosidah lagi, proses pembuatan minyak ini dilakukan melalui media yang sangat sederhana. Beberapa alat yang diperlukan hanyalah tungku yang terbuat dari kaleng bekas.
Sampah dimasukkan ke dalam kaleng kedap udara. Lalu dilakukan pemanasan dengan suhu sekitar 300 derajat Celsius menggunakan arang sisa pembakaran plastik sebelumnya sekitar empat jam, sampai menghasilkan minyak mentah atau yang akrab disebut sebagai crude oil. Uap yang dihasilkan dari pencairan diarahkan melalui pipa ke tempat yang disiapkan di ujung (pipa, red).
"Benzinnya jadi cuma alat penyulingan tak ada," kata Rosidah.
Dengan tidak adanya penyuling ini, kata Rosidah pula, BBM yang dihasilkan itu tidak bisa dipisahkan dengan bahan-bahan lain yang masih ada di dalam minyak tersebut.
Untuk itu, pihak SMKN 1 Tebingtinggi berharap ada dukungan dari berbagai pihak untuk melakukan penelitian lebih lanjut untuk memurnikan minyak plastik ini menjadi minyak tanah atau bahkan pengganti premium.
Sekedar informasi, SMK N 1 Tebingtinggi ini mengolah limbah sampah plastik dan sampah anorganik lainnya di lingkungan sekolah menjadi bahan bahan bakar minyak (BBM) dan berbagai bentuk kerajinan tangan. Sedangkan sampah organik dibuat menjadi berbagai macam pupuk yang telah dipasarkan.(zal)