PEKANBARU – Ketua Komisi V DPRD Riau, Eddy A Mohd Yatim, meminta Ketua Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Riau yang baru di-SK-an Iskandar Hoesein untuk tidak bersikap reaktif terhadap masukan dari DPRD Riau.

Menurut Eddy, Iskandar salah persepsi terhadap pernyataan dia dan Wakil Ketua DPRD Riau, Agung Nugroho, yang meminta supaya KONI Riau lebih fokus terhadap pembinaan atlet.

"Ini perlu diluruskan, saya sebagai Ketua Komisi V berharap ke depan KONI Riau betul-betul fokus pada pembinaan atlet. Karena selama ini, Cabor itu selalu datang ke Komisi V melaporkan bahwa mereka tidak dapat dukungan dari KONI secara maksimal," ujar Politisi Demokrat ini, Selasa (5/4/2022).

Komisi V sendiri, lanjutnya, sudah pernah mendudukkan masalah ini dengan memanggil Dispora, KONI dan Cabor untuk mencari solusi permasalahan ini di ruangan Medium DPRD Riau.

Nah, masalah yang mengemuka ternyata Cabor sulit membuat agenda, karena dananya di KONI. Padahal, hibah yang dilakukan Pemprov sasaran utamanya untuk memacu prestasi dan pembinaan para atlit.

Nah, dengan terpilihnya Iskandar, kata Eddy Yatim, DPRD Riau menaruh harapan besar. "Dari awal Pak Is maju sebagai calon, kita melihat ada harapan perubahan, karena ada pernyataan beliau tidak ingin bergantung dana hibah pemerintah. Bahkan beliau membuat pernyataan tegas siap menggunakan dana pribadi untuk kemajuan olahraga Riau. Ini kita sangat sepakat dan mendukung," tegasnya.

Karena itu, tambah Eddy, harapan yang dia sampaikan ini melalui pemberitaan, karena pihaknya belum pernah berjumpa dengan KONI secara kelembagaan, mulai dari Musprov hingga SK kepengurusan selesai.

Sebab, sejak Musprov dilaksanakan DPRD Riau terutama Komisi V tidak pernah ikut campur dalam dinamika yang terjadi. Ketika semua selesai, barulah DPRD Riau mencoba menginventarisir masalah yang ada, untuk selanjutnya menjadi catatan KONI Riau.

"Karena belum pernah bertemu itu maka kami sebagai legislatif yang punya fungsi budgetting, dan controlling ingin mengingatkan Pak Is supaya bisa mengatasi semua keluhan Cabor yang sampai ke Komisi V," tambahnya.

Sebab, selain mengeluhkan kesulitan mengakses dana kegiatan dari KONI, beberapa Cabor juga menyesalkan besarnya anggaran yang dihabiskan oleh pengurus, baik untuk gaji maupun kunjungan kerja.

"Jadi, tentang gaji itu aspirasi dari Cabor yang kami terima selama ini. Pak Is tak perlu sampai bilang kami mengkritik tanpa dasar, apalagi bilang gaji pengurus KONI Riau kecil dibanding provinsi lain. Kita jangan bicara gaji, kita harus bicara bagaimana dana hibah ini mampu memajukan olahraga di Riau. Salah pak Is kalau bicara begitu, beliau itu tokoh olahraga nasional bagi saya, tapi kalau menjawab begitu kita tentu sangat menyayangkan," terangnya. ***