
PEKANBARU – Dua kasus berbeda yang diduga kuat dipicu oleh kecanduan judi online dalam sepekan terakhir menyentak perhatian publik Kota Pekanbaru. Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) setempat menyoroti fenomena ini sebagai alarm atas melemahnya kepekaan sosial di tengah masyarakat.
Wakil Ketua Komisi III DPRD Kota Pekanbaru, Tekad Abidin, mengatakan, meski judi online bermula sebagai masalah pribadi, dampaknya dapat meluas hingga menimbulkan tragedi sosial. Menurutnya, lingkungan sekitar seharusnya dapat berperan sebagai sistem peringatan dini.
“Masalah seperti ini sebenarnya bisa dicegah. Saat seseorang kecanduan judi online dan mulai menunjukkan perubahan perilaku yang signifikan, itulah saatnya lingkungan,teman, keluarga, tetangga, harus peka dan turun tangan,” ujar Tekad di ruang Fraksi PDI Perjuangan DPRD Pekanbaru, Selasa (20/1/2026) sore.
Ia merefleksikan bahwa pola interaksi masyarakat yang mulai bergeser ke dunia maya turut mengikis kemampuan untuk mendeteksi tekanan psikologis orang terdekat
Sorotan Tekad muncul setelah dua peristiwa terkait judi online terjadi berdekatan. Pertama, kasus meninggalnya seorang karyawan kafe berinisial SH (25) di Jalan Thamrin, Minggu (18/1/2026). Dalam pesan terakhir yang viral, SH mengungkapkan beban ekonomi berat, penyesalan telah mengambil uang kasir tempatnya bekerja sebesar Rp3 juta, serta mengingatkan orang lain agar tidak terjerumus judi online.
“Jangan judi ya,” tulisnya.
Kedua, kasus pencurian beras oleh seorang pria berinisial SP (28) di Toko Harian Jau Hari, Jalan Bukit Barisan, Kecamatan Tenayan Raya, pada Jumat (16/1/2026). Pelaku yang nekat mencuri dua karung beras total 30 kilogram hampir dihakimi massa. Kapolsek Tenayan Raya melalui Kanit Reskrim Iptu Asbi Abdul Sani mengonfirmasi bahwa pelaku mengaku terdesak kebutuhan ekonomi akibat kecanduan judi online.
“Dua kasus ini, yang satu berakhir tragis, yang lain berujung pada tindakan kriminal, menunjukkan bahwa judi online bukan lagi sekadar pelarian pribadi, tetapi telah menjadi pemicu masalah sosial yang serius,” kata Tekad.
Tekad menilai, menurunnya interaksi langsung telah memperparah situasi. Masyarakat, menurutnya, menjadi kurang mampu membaca tanda-tanda kesusahan di sekitarnya.
“Dulu, saat nongkrong ada percakapan dan perhatian. Sekarang, meski berkumpul secara fisik, banyak yang justru sibuk dengan gawainya masing-masing. Teknologi seharusnya mendekatkan yang jauh, bukan menjauhkan yang dekat,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa membangun kembali kepekaan sosial adalah kunci pencegahan.
“Karakter peduli tidak bisa dibentuk instan. Perlu dibangun sejak dini di sekolah dan lingkungan melalui kegiatan bersama yang melibatkan interaksi langsung,” kata Tekad.
Tanpa upaya kolektif untuk memperkuat ikatan sosial dan empati, ia mengkhawatirkan masalah serupa akan terus berulang.
“Orang terdekat kitalah yang pertama kali bisa menolong. Jangan sampai kita baru tersadar setelah segalanya sudah terlambat,” pungkasnya. ***