SELATPANJANG, GORIA.COM - Dinas Pertanian Peternakan dan Ketahanan Pangan (DPPKP) memfasilitasi kegiatan Temu Informasi Teknologi oleh Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Riau. Temu informasi ini digelar di Desa Sungai Cina Rangsang Barat Kabupaten Kepulauan Meranti, Jumat (12/6/2015) lalu.

Kata Kepala DPPKP Meranti Yulian Norwis, kedatangan beberapa pakar dalam temu informasi ini sangat pas sekali, karena sekarang di Meranti sudah masuk musim tanam padi (masuk musim penghujan). "Kita kedatangan pakar-pakar dalam pertanian. Jadi, petani kita bisa langsung berinteraksi dengan pakar ini, untuk mencari solusi kendala apa saja yang ditemui di lapangan saat menanam hingga panen," ujar Icut.

Icut berharap, dengan datang langsung pakar pertanian ini ke Meranti, diharapkan para petani bisa menimba ilmu pertanian sebanyak mungkin. Untuk diaplikasikan pada lahan-lahan yang siap tanam di Kepulauan Meranti.

https://www.goriau.com/assets/imgbank/13062015/icut2jpg-2490.jpgKepala DPPKP Meranti Yulian Norwis saat memberikan sambutan dalam kegiatan Temu Informasi Teknologi.Hadir dalam temu informasi teknologi itu, Prof Dr Ir Masganti, MS dari Balai Pengkajian Teknologi Pertani Riau memberikan materi tentang pengelolaan lahan gambut ramah lingkungan. Dr Ir Khairil Anwar MS dari Balai Penelitian Tanaman Rawa, Kalimantan Selatan, memberikan materi tentang karakteristik dan permasalahan air serta cara pemecahanya di lahan rawa pasang surut

Ir Yadi Kusmayadi dari Balai Besar Peramalan OPT, Jatisari, Jawa Barat. Memberikan materi tentang pengenalan dan Pengendalian Hama Tanaman Padi. Ir Lilik Retnowati dari Balai Besar Peramalan OPT, Jatisari, Jawa Barat, memberikan materi tentang pengenalan dan pengendalian Penyakit Tanaman Padi, dan Indra Fuadi SP MP, dari UPT Perlindungan TPH Riau memberikan materi tentang pengendalian Hama Penyakit Padi secara Hayati.

Secara ringkas dari materi yang disampaikan Yadi Kusmayadi, Lilik dan Indra Fuadi menjelaskan bahwa pada umum Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) yang menyerang tanaman padi adalah hama tikus dan penyakit Blas.

https://www.goriau.com/assets/imgbank/13062015/icut3jpg-2489.jpgPerwakilan dari Balai Pengkajian Teknologi Pertani Riau Prof Dr Ir Masganti, MS saat memberikan sambutan dalam kegiatan Temu Informasi Teknologi.Dalam pelaksanaan pengendalian OPT tersebut petani belum sepenuhnya memahami teknologi yang tepat untuk pengendalian setiap jenis OPT. Petani perlu diberikan bimbingan mengenai siklus hidup atau ekobiologi setiap OPT utama yang menyerang pertanaman padi.

Untuk memfasilitasi kegiatan tersebut perlu diadakan kegiatan bimbingan teknis secara berkala sebagai contoh: kegiatan temu lapang, temu aplikasi teknologi dll yang sifatnya untuk menambah wawasan atau pengetahuan mengenai OPT dan budidaya tanaman tersebut. Dari acara yang telah diselenggarakan tersebut, petani sangat antusias atas semua materi yang disampaikan.

Pengenalan dan pengendalian OPT ramah lingkungan perlu disosialisaikan secara kontinyu, supaya agroekosistem di Kepulauan Meranti tetap seimbang dan produksi yang dihasilkan sehat. Salah satu teknologi pengendalian OPT yang ramah lingkungan adalah penggunaan agens hayati dan pestisida nabati banyak terdapat di alam

Petani perlu dibimbing untuk mengembangkan dan menerapkan penggunaan agens hayati dan pestisida nabati. Kedepan perlu kerjasama dengan instansi terkait untuk penanganan permasalahan dibidang pertanian, pertanaman maupun pengendalian OPT.

Sementara ringkasan dari Prof Masganti MS dan Dr Ir Kairil Anwar MS mengatakan bahwa Potensi gambut di Riau merupakan lahan yang sangat luas, yang sampai saat ini belum diusahakan secara optimal. Beberapa kawasan sudah memiliki sarana dan prasarana jaringan saluran air dan jalan, sangat mendukung untuk dilakukannya optimalisasi lahan.

Tidak optimalnya pengusahaan lahan gambut disebabkan karena masih minimnya pengetahun petani mengenai pengelolaan lahan gambut, sehingga hasil yang di peroleh petani belum optimal dibandingkan dengan pengusahaan lahan jenis tanah lainnya. Apabila petani dan pembuat kebijakan bisa memahami karakteristik lahan gambut dan mampu mengatasi setiap permasalahan di lapangan, maka potensi lahan yang cukup besar ini bisa membantu meningkatkan produktivitas setiap komoditas yang diusahakan serta meningkatkan indeks pertanaman, sangat mendukung program UPSUS PAJALE.

Jika patani mampu mengelola lahan gambut dengan baik, maka dapat dipastikan produksi yang diusahakan mereka akan meningkat, dibutuhkan pembinaan oleh para penyuluh lapangan yang telah dibekali dengan pengetahuan tentang karakteristik lahan gambut.

Hal yang perlu diperhatikan dalam pengelolaan lahan gambut adalah pengaturan tata air makro (saluran sekunder dan tersier) dan mikro (petak sawah), dan menyesuaikan komoditas yang akan dikembangkan, pemahaman karakteristik lahan gambut dan potensi hidrologinya. Sebagai contoh, pada lahan sawah pasang surut perlu dibuat pintu air yang bisa mengatur keluar masuknya air dan perlu dicari jenis varietas padi yang cocok dengan kondisi setempat. Karena masing-masing agroekosistem memiliki kecocokan komoditas dan varietas yang toleran .

Dalam pengelolaan lahan gambut, awalnya memang banyak investasi yang dibutuhkan, untuk itu perhatian pemerintah pusat maupun daerah sangat diharap dalam membantu perbaikan infrastruktur seperti saluran irigasi dan pembuatan pintu-pintu air. Dibutuhkan koordinasi antar instansi terkait, agar terjadi sinkronisasi program untuk mendukung optimalisasi lahan gambut mendukung UPSUS PAJALE. (zal)