JAKARTA - Muhammad Hafiz Saad (22) syahid dalam masjid di mana ia menjadi imam muda di Gurugram, India, pada Senin (31/7/2023). Ia korban terkini dari hasutan mematikan nasionalisme Hindu di India.

Imam muda yang cinta damai ini ditembak dan ditikam umat Hindu di hadapan aparat kepolisian. Muhammad Hafiz Saad wafat sebulan setelah dia mengunggah doa perdamaian ke media sosial.

"Ya Allah, tolong jadikan Hindustan tempat di mana umat Hindu dan Muslim makan dari piring yang sama."

Dikutip dari Republika.co.id, Shadab Anwar, abang dari Saad menuturkan kepada media India eNewsroom, adiknya baru tiba di Gurugram sekitar tujuh bulan lalu. Kota dengan populasi 600 ribu jiwa itu belakangan jadi pusat teknologi di India dan mengundang banyak pendatang. Aslinya, Saad berasal dari Sitamarhi, sekitar 900 kilometer ke arah timur dari Gurugram.

Hafiz Saad belajar agama di Chattarpur, Mehrauli dan Darul Ulum Deoband. Ia kemudian ditugaskan mengabdi di Gurugram. “Dia tak pernah punya masalah dengan siapapun,” kenang Shadab yang juga mengajar di Gurugram. Ia tengah mengantar jenazah adiknya kembali ke Sitamarhi saat dihubungi.

Tak berapa lama setelah ketibaan Saad di Gurugram, tengah terjadi protes kelompok garis keras Hindu yang meminta pelarangan shalat Jumat di wilayah itu. Dalam beberapa tahun terakhir, anggota organisasi sayap kanan Hindu telah memprotes umat Islam yang melakukan shalat Jumat di ruang publik di Gurugram.

Pihak berwenang telah membatalkan izin untuk sebagian besar tempat ibadah. Masjid Jami Anjuman di Sektor 57 Gurugram tempat Saad menjadi imam adalah salah satu yang masih bisa digunakan untuk sembahyang.

Dalam konteks ketegangan itulah, Saad mengunggah doanya ke media sosial. “Dia orang yang berpikiran positif dan sangat percaya bahwa kerukunan akan tercapai di India,” ujar Shadab.

Saat ini, Masjid Anjuman sepi. Sekitar 10 petugas polisi berdiri di depan bangunan beton yang dulu menampung hingga 450 jamaah tetapi sekarang menjadi gundukan puing dan abu.

Masjid di pinggiran ibu kota India yang didominasi Hindu, New Delhi, ini diserang pada 31 Juli malam, diduga oleh gerombolan sayap kanan Hindu. Para penyerang membakar masjid dan membunuh Saad yang berada di dalam masjid pada saat itu.

Imran Qureshi yang tinggal 100 meter dari masjid mengatakan, mendengar enam tembakan sekitar pukul 00.10. “Ada massa sekitar 70 orang di luar masjid, meneriakkan slogan-slogan. Saya takut,” kata dia yang berencana untuk pindah ke daerah mayoritas Muslim demi keamanan.

Serangan itu terjadi beberapa jam setelah kekerasan komunal yang mematikan meletus di distrik tetangga Nuh di negara bagian Haryana. Desainer interior bernama Mohammad Faheem Kazmi secara rutin shalat di masjid yang dibakar dan kini dia mengaku sangat ketakutan.

“Serangan ini adalah balas dendam untuk Nuh,” kata pria berusia 32 tahun yang telah tinggal di daerah tersebut sejak 2011 dikutip dari Aljazirah.

Sekitar empat orang meninggal, termasuk dua polisi, ketika prosesi keagamaan Hindu di Nuh yang diselenggarakan oleh Vishwa Hindu Parishad (VHP) dan Bajrang Dal berubah menjadi ganas. Dua organisasi sayap kanan Hindu ini bersekutu dengan Partai Bharatiya Janata (BJP) yang berkuasa.

Menurut laporan media dan warga Nuh, bentrokan terjadi setelah beberapa pria Muslim menghentikan prosesi keagamaan dan melempari batu saat pawai. Pawai-pawai keagamaan serupa yang dilakukan kelompok Hindu garis keras kerap sengaja melintasi kompleks Muslim dan meneriakkan slogan-slogan provokatif. Pihak berwenang di Haryana telah mengerahkan pasukan tambahan, memberlakukan jam malam dan menangguhkan internet setelah kerusuhan.

Tapi langkah-langkah itu tidak menghentikan gerombolan Hindu menyerang toko-toko milik Muslim, restoran pinggir jalan, properti, dan tempat ibadah di Gurugram serta di kota-kota terdekat seperti Sohna. Toko-toko di Sektor 70A Gurugram dan Sektor 66 dibakar pada Selasa (1/8/2023) malam, sementara anggota Bajrang Dal mengadakan rapat umum di kota Bahadurgarh Haryana.

Mereka meneriakkan slogan-slogan penuh kebencian seperti “Desh ke gaddaron ko, Goli maaro saalon ko” (“Tembak pengkhianat negara kita ”). Slogan ini banyak digunakan oleh politisi BJP terhadap Muslim selama protes anti-Undang-Undang Amandemen Kewarganegaraan pada 2019 hingga 2020.

Berbicara tentang kekerasan pada  Selasa, Komisaris Polisi Gurugram Kala Ramachandran mengatakan, beberapa kios dirusak dalam pembakaran. “Prima facie [Pada kesan pertama] orang-orang yang kami tangkap tidak terkait dengan kelompok tertentu. Namun, penyelidikan masih dilakukan,” katanya.

Kepala Menteri negara bagian Haryana Manohar Lal Khatta mengatakan pada Rabu (2/8/2023), total 116 orang telah ditangkap sehubungan dengan kekerasan di sana. “Para konspirator [di belakang bentrokan di Nuh] terus diidentifikasi,” katanya.

Tokoh yang berasal dari BJP ini tidak mengomentari pembunuhan imam majid. “Mereka yang dinyatakan bersalah tidak akan diampuni. Kami berkomitmen untuk keselamatan masyarakat,” katanya.

Shadab Anwar, mengatakan, kurang percaya pada pihak berwenang. Pihak berwenang dituduh memainkan peran partisipan dalam kekerasan baru-baru ini yang menargetkan umat Islam.

Kepada Aljazirah, Shadab mengatakan, telah berbicara dengan saudaranya setengah jam sebelum pembunuhan. “Dia menelepon saya pada pukul 23.30 mengatakan ‘polisi ada di masjid dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan’,” katanya.

Sekitar pukul 02.30, Shadab mengatakan, dia mendengar soal pembunuhan itu. “Ini terjadi di hadapan polisi,” katanya sambil menunggu di luar kamar mayat untuk mengambil jenazah.

Polisi telah menangkap empat pria Hindu dari desa terdekat Tigra atas serangan terhadap masjid tersebut. “Para penyerang berusaha memenggal kepalanya. Ada beberapa tanda. Dia tertembak, dan ada juga bekas pisau di dadanya,” kata Shadab. 

Saad baru berusia 22 tahun ketika syahid. Ia sedianya sudah membeli tiket untuk pulang ke kampung halamannya pada 30 Agustus ini. Hanya jenazahnya yang pulang.***