PEKANBARU - Memanfaatkan kunjungan kerja (kunker) Menteri Dalam Negeri (Mendagri) RI, Tjahjo Kumolo ke bumi Melayu, Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Riau, H Arsyadjuliandi Rachman menyampaikan kondisi keuangan Provinsi Riau dan realita dipangkasnya Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Riau 2016.

"Anjloknya harga minyak dunia membuat Dana Bagi Hasil (DBH) Riau turun pak. Sehingga APBD Riau 2016 ikut mengalami penurunan," papar Plt Gubri dalam pidatonya, Jumat (22/1/2016) di Balai Serindit Gedung Daerah Provinsi Riau.

APBD Riau 2016 yang semula sebesar Rp11,2 triliun sempat dirasionalisasi, sehingga turun menjadi Rp10,9 triliun. Hal tersebut menyebabkan Riau harus mengencangkan ikat pinggang alias berhemat ketat.

Ia pun mengisahkan penerimaan DIPA 2016 yang diterima Provinsi Riau termasuk kabupaten/kota yang mengalami penurunan, yakni sebesar Rp21,543,427 triliun turun Rp4,094,278 triliun dari DIPA tahun 2015 lalu yang mencapai Rp25 triliun lebih.

Sambung Plt Gubri, tahun 2014 jumlah pegangguran di Riau mencapai 176.762 jiwa, dan naik pada tahun 2015 menjadi 217.053 jiwa. Sedangkan jumlah masyarakat miskin pada tahun 2014 sebanyak 498.280 jiwa. Jumlah tersebut mengalami kenaikan pada tahun 2015 menjadi 531.360 jiwa.

"Tahun 2016 ini Riau memiliki proyeksi menekan jumlah masyarakat miskin dan pengangguran," tutur Andi Rachman (sapaan akrab Plt Gubri). ***