
SELATPANJANG - Bakal Calon Wakil Gubernur Riau Hardianto meresmikan Balai Koalisi di Kepulauan Meranti, Minggu (28/1/2018). Dalam sambutannya, Hardianto menyampaikan program Rp1 miliar untuk tiap desa.
"Kami melangkah dengan bismillah, dengan i'tikad baik. Bagaimana nanti sama-sama, bukan hanya kami pasangan calon, insyallah kalau jadi Gubri bersama-sama kita bangun negeri ini," kata Hardianto.
Membangun daerah, tambah Hardianto, bukan hanya sisi infrastruktur saja tapi di semua lini atau sendi-sendi kehidupan. Termasuk budaya, religi atau agama.
"Kalau hanya jalan bagus, sementara masyarakat sakit siapa yang mau lewat. Sebaliknya, kalau jalan jelek, masyarakat juga susah," tambah Hardianto.
Di sampaikan Hardianto juga, bersama Balon Gubri Lukman Edy, mereka punya program Rp1 miliar untuk tiap desa. Anggaran itu guna mensupport bagaimana desa bisa berkembang cepat dan maju. Kesenjangan desa dengan kelurahan baik di bidang pendidikan, kesehatan, infrastruktur, ekonomi, akan bisa diatasi.
"Hari ini kami hanya bisa beri janji dan program. Itu akan kami wujudkan ketika jadi Gubri dan Wagubri. Harapan demi harapan, program-program itu kita canangkan dan Insyallah terpilih, dilantik, kita wujudkan," ujarnya.
Selain itu, pasangan Lukman Edy - Hardianto juga akan fokus pada perkebunan industri.
Untuk di Kepulauan Meranti, mereka akan mendorong supaya ada industri hilir di sini. Sehingga, yang dieksor bukan lagi bahan baku, melainkan olahan yang siap santap. Olahan berbahan sagu itu dibuat di Kepulauan Meranti, lalu dijual ke tiap daerah baik Indonesia maupun luar negeri.
"Sehingga harga bisa naik. Insyallah untuk masyarakat, endingnya sejahtera.
Terkait masih terisolirnya Kepulauan Meranti dengan Pulau Sumatera atau Riau Daratan, kata Ketua Komisi IV DPRD Riau itu lagi, sebenarnya sudah sering dibicarakan. Tidak hanya saat mencalonkan di Pilgubri saja.
Diakui Hardianto, mereka konsen membuka akses sehingga tak ada lagi isolasi di Kepulauan Meranti dari Pulau Sumatera.
"Satu-satunya solusi adalah RoRo Buton - Kampungbalak. Tapi setelah itu kan harus ada aksesbilitas dalam bentuk infrastruktur jalan menuju kota Selatpanjang, itulah Jalan Alai-Mengkikip," kata Hardianto.
Sebenarnya, kata Hardianto lagi, sejak 2016 sudah kita kucurkan bantuan keuangan senilai Rp50 miliar. Lalu, tahun 2017 ini dari Rp15 miliar hingga Rp25 miliar di KUA-PPAS pada APBD, ia bersama teman-teman mencari tambahan biaya dalam proses pembahasan APBD. Sehingga anggaran bertambah menjadi Rp40 miliar untuk penganangan Jalan Poros Alai - Mengkikip.
Hanya saja, dalam pengerjaan ada kendala di lapangan. Ternyata ada beberapa segmen ruas jalan Alai - mengkikip sepanjang lebih kurang 400 meter kondisi tanahnya sangat labil. Sehingga ketika ditimbun tak juga bisa.
"Nah, hari ini kita berfikir, tahun ini kita lakukan kajian pengalihan trase jalan. Sehingga 400 meter yang labil itu kita alihkan. Kita tidak ingin stag dipersolaan yang sama," ujar Hardianto.
"Kita harapkan di 2019 akses jalan Alai - Mengkikip bisa fungsional dan KMP berembang bisa operasional. Akses masuk dari Sumatera ke Meranti connect dan saya yakin mobil bukan lagi jadi barang asing di Meranti terkhusus di Selatpanjang ini," tambah Hardianto mengakhiri wawancara.
Hadir saat peresmian Balai Koalisi, pengurus Partai Gerindra Kepulauan Meranti M Taufikurrohman, Basiran, M Tartib, H Nursalim, dan beberapa lainnya. Hadir juga dari PKB Hafizan Abas, Ma'ruf Syafi'i dan anggota partainya. Serta ratusan masyarakat setempat. ***