
SELATPANJANG - Ada pemandangan unik dari gotong royong yang digelar di jalan Lintas Desa Lukun - Sungaitohor Barat, Minggu (18/9/2016). Selain diikuti laki-laki dan perempuan muda, juga terlihat seorang nenek-nenek berusia 71 tahun.
Perempuan lanjut usia itu bernama Hasnah. Tahun lahirnya bersamaan dengan Indonesia Merdeka yaitu 1945.
Meski terlihat masih agak sehat, perempuan yang memiliki nama keren Mona atau Maklung Mone (Mona, sebutan dengan logat dareah, red) rupanya ada keterbatasan. Yaitu, mata bagian kanannya sudah tidak berfungsi sejak tahun 2011 (5 tahun silam, red).

Perempuan yang memiliki 7 orang anak (4 perempuan dan 3 laki-laki, red) ketika ditemui GoRiau di dalam hutan tersebut mengaku tertantang untuk ikut serta membersihkan bodi jalan antara Lukun dengan Sungaitohor Barat itu. Ia pun terlihat membawa parang, yang akan digunakan memotong tumbuhan liar seperti pakis dan lain sebagainya.
"Tadi ade budak nanye, kate die wan ngape pulak ikot masuk ke hutan. Bio aje lah kami-kami yang mude ni," kata Mona dengan logat daerah menirukan pertanyaan dari salah seorang pemuda Desa Lukun.
Kata Mona lagi, Ia langsung menjawab dengan lirih. "Saye jawab je, Wan endak tau susah senangnye royong dalam hutan ni. Kalau dah ade informasi royong, kecuali sakit baru tak bisa pergi," kata Mona bersemangat.
Wan, bahasa daerah yang artinya nenek.
Mona mengaku, kalau suaminya Muslim, sudah tidak lagi kuat untuk berjalan jauh.
Bahkan, menurut beberapa warga Lukun, hingga saat ini Mona masih sering meladang. Dari rumahnya ke ladang, jarak yang harus ditempuh Mona berjalan kaki sejauh 3 Kilometer.
Tak tanggung-tanggung, untuk ke lokasi terakhir saat gotong royong, Minggu (18/9/2016) itu, Mona telah berjalan sejauh 4,5 Kilometer. Sementara jalan yang harus dilalui bukanlah bagus. Terkadang sangat becek dan melalui semak belukar.
Semangat Mona agar jalan penghubung desa itu segera terbangun dengan sempurna sangat besar. Ia pun mengaku tetap akan ikut turun kalau memang ada gotong royong pembersihan jalan lintas Lukun - Sungaitohor Barat.
Kepala Desa Lukun, Lukman, yang ditemui di hutan yang sama mengatakan royong yang diikuti lebih 300 orang masyarakat itu merupakan upay a untuk mempercepat akses lintas desa terbangun dengan baik. Sebab, jalan yang menjadi urat nadi desa itu sangat diharapkan seluruh masyarakat.
"Hari ini dari royong diikuti 6 kelompok masyarakat yang berasal dari Lukun, Batin Suir Tebingtinggi Timur dan Semulut Desa Banglas. Kita bersihkan bodi jalan yang sudah mulai tertutup," ujar Lukman.
Untuk sampai ke jalan yang sudah diaspal di Desa Sungaitohor Barat, kata Lukman ada sekitar 12 KM. Dimana, 6 KM bisa ditempuh menggunakan sepeda motor (dari Lukun, red) sementara 6 KM lagi tidak bisa. Sebab, melalui hutan belantara.
"Yang jelas kita bersihkan dulu bodi jalan yang sudah ada, semoga akan mempermudah masyarakat menuju tanah atau kebun mereka," ujar Lukman juga.
Di tempat yang sama, Camat Tebingtinggi Timur Helfandi SE MSi mengatakan, untuk 6 KM jalan di dalam hutan belantara akan dibicarakan dengan seluruh kepala desa. Direncanakan pembangunan bodi jalan itu sifatnya gotong royong dalam hal pendanaan. Mereka akan menggunakan alat berat.
"Kalau masyarakat yang royong saya pikir tidak bisa. Rencananya kita sewa alat berat, biayanya kita bicarakan dengan semua Kades di sini," ujar Helfandi pula.
Diakui Helfandi, dalam Musrenbang, Ia telah menyampaikan bahwa untuk akses Lukun ke Sungaitohor Barat itu memang harus diprioritaskan pembangunan badan jalan. Ini dilakukan untuk mempermudah masyarakat berurusan ke Ibukota Kecamatan, dan membawa hasil kebun.
"Itu sudah saya sampaikan. Tahun berikutnya, setelah bodi jalannya bagus, baru kita upayakan base (pengerasan dengan sirtu, red)," beber Helfandi.
Ditambahkan Lukman lagi, untuk tahun ini kembali adanya proyek pengerasan di Desa Lukun (menyambung proyek pengerasan yang lama, red). Pengerasan itu dianggarkan sebesar Rp19 Miliar lebih. Lukman pun berharap kontraktor yang telah memenangkan pekerjaan itu harus bisa serius membangun agar harapan masyarakat akan menikmati akses jalan (infrastruktur) tidak hampa.
"Sebenarnya dengan kondisi dan waktu seperti sekarang saya kurang yakin mereka (kontraktor, red) bisa menyelesaikan 100 persen pekerjaan. Tapi, ya sama-sama kita berharap agar kontraktor itu memberikan yang terbaik untuk daerah ini," kata Lukman lagi.
Sebelumnya, sudah ada proyek pengerasan sirtu di sana. Pembangunan itu mulai dari Pelabuhan Semulut Desa Banglas hingga ke Desa Lukun. Namun, menurut informasi, pekerjaan ini tidak maksimal. Kontraktornya ada yang bermasalah dengan hukum hingga dipenjara, dan pekerjaan dilanjutkan oleh kontraktor yang lain.
Sementara untuk berurusan ke Ibukota Kecamatan Tebingtinggi Timur di Desa Sungaitohor, tanpa akses jalan darat akan sedikit memakan waktu dan biaya. Sebab, untuk ke Sungaitohor, satu hari hanya ada satu kali transportasi laut. Masyarakat harus mengeluarkan biaya lebih seperti ongkos pulang pergi, biaya makan, dan biaya lainnya.
Menurut masyarakat Lukun, kalau memang akses ke Sungaitohor bisa ditempuh dengan sepeda motor. Mereka bisa pulang di hari yang sama dengan biaya sangat kecil yaitu hanya untuk membeli bahan bakar mesin. ***