DURI - Kebakaran lahan dan hutan (karlahut) masih merebak di wilayah Kecamatan Mandau dan Pinggir, Kabupaten Bengkalis, Riau. Inilah yang menjadi alasan regu Manggala Agni di Duri tidak pulang ke rumah masing-masing melepas rindu dengan anak dan istri serta keluarga lainnya, hampir satu bulan lamanya bergelut dengan api dan air.

Bukan karena melepas tanggungjawab dari pekerjaan saja, namun mereka memiliki loyalitas tinggi untuk kenyamanan masyarakat yang bebas dari kabut asap selama musim kemarau ini.

"Kami sadar dampak karlahut berupa kabut asap ini, menimbulkan kerugian semakin besar dari hari ke hari, baik ekonomi, sosial terutama lingkungan. Inilah upaya yang kami lakukan sebagai pengendalian kebakaran lahan dan hutan selama di Giam Siak Kecil, Desa Tasik Serai," kata Danru IV, Manggala Agni, Muhammad Nanang saat dikonfirmasi GoRiau.com, Selasa (23/8/2016).

Mereka yang bekerja memadamkan api dibawah teriknya matahari ini tidak mendapat honor perharinya ini juga mengaku lelah, letih, dan marah saat usaha mereka ini tidak mendapat respon positif dari masyarakat sekitar.

"Waktu api masih kecil dulu, kami minta bantu masyarakat dan pemerintah setempat tidak ada yang respon. Tapi saat api sudah besar, baru pada sibuk semua turun. Sudah terlambat, tak ada guna, tinggal nunggu hujan deras turun baru padam api ini," imbuh Nanang lagi.

Untuk makan di selama operasi gambut itu, lanjut Nanang, anggotanya selalu terlambat. Pasalnya selain jumlah personil yang terbatas, tempat untuk membeli makanan itu pun sangat jauh dari lokasi pemadaman.

"Kalau tidak ada juga warga yang membantu mengantarkan makan siang, kami terpaksa beli nasi keluar. Dan makan siangnya biasa jam 2 atau jam 3 siang," terang Nanang yang ingin masyarakat setempat ataupun pemerintahnya dapat berpartisipasi bersama memadamkan api tersebut. ***