
PEKANBARU - Kemajuan negara Singapura dengan pegulatan budaya suku antar bangsa telah memudarkan semangat Melayu sebagai corak negeri. Ini berbeda dengan apa yang terjadi di Riau, budaya Melayu masih menunjukkan eksistensinya di tengah kemajemukan.
Kesan itu disampaikan peserta dalam program Penyerapan Guru Kanan 2016 Pusat Budaya Melayu Kementerian Pendidikan Singapura saat menyampaikan salam perpisahan di Balai Adat Melayu Riau, Selasa (31/5/2016).
Ketua Delegasi Pakar Pusat Budaya Melayu Kementerian Pendidikan Singapura Rahmat bin Subadah mengatakan, kegiatan Penyerapan Guru Kanan 2016 merupakan program Pemerintah Singapura memberikan wawasan budaya pada guru-guru senior dalam mempertahankan khazanah Melayu sebagai budaya Bunda.
"Kegiatan ini berlangsung pada 24 Mei-2 Juni 2016. Dan ini kali kedua bagi kami bekerjasama dengan LAM Riau dalam rangka menyerap dan mempelajari budaya, bahasa dan sejarah Melayu Riau," kata Rahmat.
Ia mengaku berterima kasih atas sambutan LAM Riau, dari hasil studi ini banyak pengalaman yang layak tentang budaya Melayu Riau untuk diajarkan pada pendidikan tingkat sekolah di Singapura.
"Kami banyak dapat pengalaman yang tak pernah ada di Singapura. Di sini kami dapat melihat langsung, bagaimana rumah Melayu, bagaimana masakan Melayu dan bagaimana hidupnya budaya Melayu di tengah-tengah budaya lain," kata Rahmat Subadah.
Puan Khaziah Yem menambahkan, merekan sangat mengagumi aneka budaya Melayu Riau yang berkembang di masyarakat, sangat hidup dan memberikan warna tersendiri.
"Saya amat berkesan dengan makanan. Mungkin apabila saya balek ke Singapura, tak berjumpa lagi dengan makanan sesedap ini," tutur Khaziah yang juga memuji kebersihan Kota Pekanbaru.
Ketua Harian LAM Riau Alazhar menyebutkan, selama berada di Riau, para Cik Gu asal Singapura ini telah diberikan pemahaman budaya melalui pakar-pakar budaya Melayu, serta mengunjungi situs-situs budaya dan seni Melayu Riau.***