
PEKANBARU - Roda ekonomi Provinsi Riau berputar kencang di awal tahun. Derasnya aliran komoditas andalan yang dikirim ke berbagai belahan dunia sukses menebalkan pundi-pundi daerah. Bahkan, belanja besar bernilai ratusan juta dolar untuk mendatangkan pesawat terbang dari Eropa sama sekali tidak mampu menggoyahkan kekuatan neraca perdagangan provinsi ini..
Kepala Badan Pusat Statistik Provinsi Riau, Asep Riyadi mengungkap dari balik pergerakan angka ekspor-impor sepanjang Januari hingga April 2026, Riau sukses membukukan surplus perdagangan menembus angka US$5,96 miliar. Nilai ini menjadi amunisi segar bagi perekonomian lokal di tengah ketidakpastian pasar global.
“Selama Januari-April 2026, neraca perdagangan Riau mengalami surplus US$5,96 miliar yang dipicu oleh surplus sektor nonmigas dan migas. Sementara April 2026, surplus tercatat sebesar US$1,59 miliar, dengan kontribusi nonmigas US$1,51 miliar dan migas US$83,17 juta,” papar Asep Riyadi, Selasa (2/6/2026).
Banjir dolar ini tidak jatuh dari langit. Kejayaan tersebut ditopang kuat oleh melimpahnya ekspor lemak dan minyak hewan atau nabati asal Riau yang laku keras di luar negeri. Nilai transaksi komoditas primadona ini melesat naik hingga US$662,38 juta, menjadi mesin penggerak utama yang mendorong total ekspor Riau menyentuh US$7,03 miliar dalam empat bulan pertama.
Pasar Asia terbukti masih menjadi ladang emas bagi produk-produk Riau. Tiongkok bertengger di posisi puncak sebagai pembeli terbesar dengan senilai US$1,23 miliar. India dan Malaysia terus membuntuti dengan daya serap yang tak kalah masif. Ketiga raksasa ekonomi ini menguasai lebih dari 35 persen total ekspor nonmigas Riau.
“Dari sisi sektor, ekspor nonmigas hasil industri pengolahan meningkat 12,81 persen, sementara hasil pertanian mengalami penurunan 10,40 persen,” rincinya.
Di balik surplus miliaran dolar tersebut, terselip sebuah data impor yang menyedot perhatian pasar. Nilai impor Riau tiba-tiba melonjak lebih dari 100 persen menembus US$1,07 miliar. Lonjakan drastis ini rupanya bukan dipicu oleh kebutuhan konsumsi harian masyarakat, melainkan adanya manuver mendatangkan barang modal kelas berat.
“Nilai impor barang modal meningkat sangat signifikan sebesar 1.267,94 persen menjadi US$464,69 juta. Selain itu, bahan baku atau penolong naik 21,61 persen dan barang konsumsi meningkat 6,24 persen,” bebernya.
Kenaikan ini didominasi oleh transaksi pembelian kapal terbang dan suku cadangnya yang bernilai US$400,83 juta. Prancis tiba-tiba menyeruak menjadi negara pemasok utama yang menyumbang hampir 40 persen dari total impor nonmigas Riau, jauh meninggalkan Tiongkok dan Kanada.
Masuknya armada udara asal Eropa ini menjadi indikasi kuat adanya pergerakan investasi dan modal yang sangat masif. Belanja bernilai triliunan rupiah tersebut memperlihatkan geliat aktivitas ekonomi tingkat tinggi yang sedang berlangsung di Bumi Lancang Kuning.
Meski begitu, pengeluaran untuk impor pesawat itu seolah tak terasa berkat kekuatan ekspor Riau. Arus masuk devisa dari sektor nonmigas yang mencapai US$5,74 miliar memastikan neraca perdagangan tetap kokoh berada di zona hijau dan jauh dari ancaman defisit.
"Dengan capaian tersebut, kinerja perdagangan Riau pada awal 2026 menunjukkan tren positif seiring penguatan ekspor nonmigas dan meningkatnya aktivitas impor barang modal sebagai indikasi dinamika ekonomi daerah," urainya. ***