BENGKALIS, GORIAU.COM - Guna mencarikan solusi dan jalan tengah terbaik terkait persoalan tenagakerja di Sungai Pakning, Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR) Bukitbatu menjemput secara adat manajemen Pertamina RU II Spk dan pengurus Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (SBSI) Kecamatan Bukit Batu untuk bermusyawarah, Sabtu (17/5/2014).

 Pertemuan jemputan adat tersebut dipusatkan di Sekretariat LAMR Bukitbatu Jalan Jendral Sudirman, Sungai Selari. Hadir Ketua Majelis Kerapatan Adat (MKA) LAMR Nasirwan dan anggota, Ketua Harian LAMR Bukitbatu Moeslim Rozali dan puluhan pengurus inti, anggota DPRD Bengkalis Azmi R Fatwa, Manajer Pertamina RU II Sugeng dan jajaran, Ketua SBSI Bukit Batu Syaiful Bahri dan jajarannya.

 Dalam pertemuan itu, LAMR Bukitbatu berupaya menengahi persoalan dan perselisihan yang terjadi antara pihak manajemen Pertamina RU II Sungai Pakning dengan SBSI Bukitbatu, 

 ''Karena LAMR merupakan induk organisasi yang dituakan di daerah kita ini, maka kita mencoba untuk mencarikan jalan tengah yang sesuai dengan norma-norma dan cara orang melayu dalam menyelesaikan masalah,'' ujar Ketua LAMR Bukitbatu, Moeslim Rozali.

 LAMR memahami keinginan SBSI yang mengharapkan peningkatan kesejahteraan bagi anggota yang bekerja sebagai tenaga outsourching Labor Supply (LS) di Pertamina Sungai Pakning. Di sisi lain manaJemen Pertamina akan mengakomodir selagi tuntutan merupakan kebijakan manaJemen di Sungai Pakning, namun persoalan-persoalan yang merupakan kewenangan direksi atau pun manajemen yang lebih tinggi tentu saja tidak bisa diputuskan di Sungai Pakning melainkan Pertamina Dumai ataupun jajaran direksi di Jakarta.

 Anggota DPRD Bengkalis Azmi R Fatwa dalam kesempatan itu menyampaikan pandangannya bahwa semua pihak diharapkan mencarikan win-win solution tanpa merasa benar sendiri.

 ''Kita tidak memihak kepada salah satu pihak. Baik Pertamina maupun SBSI barangkali bisa bersikap bertolak angsur dalam artian mencarikan solusi yang tidak merugikan pihak manapun, misalnya SBSI mengurangi satu tuntutan dan Pertamina memenuhi tuntutan yang bisa diputuskan oleh manajemen di Sungai Pakning. Untuk SBSI saya sarankan untuk tidak bersikap terhadap satu tuntutan sebagai harga mati, karena jika sudah menganggap harga mati maka tidak perlu lagi kita musyawarah memperoleh mufakat,'' pesan Azmi.

 Musyawarah malam itu juga menyinggung soal rekuritmen karyawan dan juga insiden pengusiran karyawan baru oleh SBSI. Terkait hal tersebut LAMR meminta agar ke depan rekruitmen pekerja supaya lebih transparan, namun demikian LAMR juga tidak setuju atas pengusiran karyawan baru yang dilakukan SBSI Bukit Batu beberapa waktu yang lalu

 ''Ke depan kita berharap Pertamina bersikap transparan untuk rekruitmen kerja ini, namun terkait pengusiran 6 orang karyawan baru oleh anggota SBSI beberapa waktu lalu, kita tidak sepaham dan tak setuju dengan hal itu, karena tidak sesuai dengan norma-norma Melayu," ujar Muslim Rozali.

 Sementara itu Manajer Pertamina RU II Sungai Pakning, Sugeng menyatakan bahwa selama dirinya memimpin Pertamina Sungai Pakning sudah 19 item tuntutan SBSI Bukit Batu yang diakomodir oleh perusahaan.

 ''Pada prinsipnya kita juga menginginka seluruh pekerja sejahtera termasuk tenaga LS, untuk itu berbagai upaya maksimal sudah kita lakukan, beberapa tuntutan sudah kita penuhi, namun tuntutan yang sifatnya lebih tinggi seperti merubah tenaga out sourching menjadi tenaga tetap tentu diputuskan oleh direksi dan menunggu hasil kesepatan Panja DPR RI dan itu sifatnya nasional. Kita juga menyambut baik musyawarah yang digelar LAMR ini dan mudah-mudahan silaturrahmi terus terjalin dan bisa kita carikan solusi terbaik secara bertahap dan sesuai aturan,'' ujar Sugeng.

 Sementara Ketua SBSI Bukitbatu, Syaiful Bahri mengatakan bahwa pihaknya tidak bisa memutuskan dalam pertemuan ini, akan tetapi melakukan pembahasan terlebih dahulu dengan pengurus dan anggota SBSI.

 Meskipun tidak menghasilkan kesepakatan terutama mengenai pengusiran karyawan baru beberapa waktu lalu, LAMR dan Pertamina Sungai Pakning akan mencarikan solusi terbaik untuk keberlangsungan operasional Pertamina RU II Pakning.(jfk)