PEKANBARU – Transformasi besar-besaran menuju kampus berstandar internasional menjadi agenda utama Dekan Fakultas Teknik Universitas Riau, Prof Ahmad Fadli, ST, MT, PhD. Gagasan ini diusungnya dalam kontestasi pemilihan Rektor Universitas Riau periode 2026–2030. Kampus dinilai harus bergerak cepat mengejar reputasi global tanpa meninggalkan identitas lokal dan kebutuhan masyarakat.

Tantangan perguruan tinggi saat ini tidak lagi sebatas menghasilkan lulusan. Kampus dituntut menjadi inovatif, kompetitif, dan pusat pengembangan ilmu pengetahuan berbasis kebutuhan masa depan.

"Peningkatan kualitas SDM akademik dan tenaga kependidikan menjadi kunci untuk mendongkrak daya saing universitas di tingkat internasional," ujar Ahmad Fadli, Selasa (12/5/2026).

Delapan arah kebijakan strategis disiapkan guna mewujudkan target tersebut. Fokus utamanya mencakup percepatan reputasi akademik dan pembenahan tata kelola institusi. Penguatan riset berdampak tinggi serta peningkatan publikasi internasional diprioritaskan agar posisi universitas makin diperhitungkan dalam jejaring akademik global.

Hilirisasi hasil penelitian turut mendapat sorotan tajam. Riset kampus diharapkan mampu menghasilkan inovasi yang memberi manfaat ekonomi dan sosial bagi masyarakat, bukan sekadar berhenti pada tahap publikasi ilmiah.

"Melalui program UNRI-RIC Hub, kami ingin membangun pusat komersialisasi riset dan pengembangan inovasi kampus yang menghubungkan dunia akademik, industri, dan masyarakat," jelasnya.

Transformasi digital didorong melalui konsep Smart and Integrated University. Sistem ini dirancang untuk menciptakan tata kelola yang efisien, transparan, dan berbasis data. Pelayanan akademik juga akan dibuat lebih adaptif terhadap perkembangan teknologi, didukung program UNRI-SDC 5.0 yang mengintegrasikan kecerdasan buatan atau AI.

Peningkatan kualitas sumber daya manusia dirancang lewat program UNRI-DPAP untuk mempercepat penambahan jumlah dosen bergelar doktor. Sementara itu, program UNRI-GRAP difokuskan guna memperluas jejaring internasional dan mengangkat reputasi global kampus.

Kolaborasi lintas fakultas serta kerja sama dengan institusi nasional maupun internasional mendesak dilakukan agar kampus tidak tertinggal dalam persaingan pendidikan tinggi global. Pengembangan pendidikan vokasi unggul dan mobilitas internasional mahasiswa juga didorong untuk memperkuat kesiapan lulusan memasuki persaingan dunia kerja.

Perguruan tinggi negeri berstatus PTN-BLU ini diakui masih menghadapi sejumlah persoalan mendasar, mulai dari tata kelola manajerial, keterbatasan infrastruktur, hingga kemandirian pendanaan. Tata kelola profesional berbasis meritokrasi, sistem data transparan, dan pembangunan kampus berkelanjutan disiapkan sebagai jalan keluar menjawab tantangan jangka panjang tersebut. ***