JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS kini merosot hingga menyentuh level di atas Rp18.100/US$, dibarengi kejatuhan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dari level puncak 9.000-an ke titik terendah 5.400-an. Fenomena aneh ini memicu dugaan adanya keterlibatan kekuatan asing yang sengaja mengacaukan stabilitas ekonomi nasional.

"Ada tangan-tangan jahat yang mengontrol kekacauan yang terjadi di Indonesia pada saat ini. Mari kita bongkar sama-sama," kata Founder dan CEO Astronacci International, Prof Gema Goeyardi, dikutip dari akun YouTube @astronacciinternational, Selasa (9/6/2026).

Gema membedah tiga masalah utama pemerintah, yakni faktor internal, eksternal, dan kondisi Indonesia dalam serangan (Indonesia Under Attack). Masalah internal diakuinya sudah disampaikan saat rapat di MPR, pertemuan dengan Doktor Ibas, hingga berbagai tayangan podcast.

Sementara untuk isu eksternal, diskusi yang berkembang dinilai hanya memindahkan kekesalan publik kepada Presiden AS Donald Trump tanpa menghadirkan solusi konkret karena berada di luar kendali pemerintah.

Fokus utama Gema tertuju pada anomali sektor keuangan yang disebutnya sebagai perang senyap pihak asing yang tidak menyukai garis diplomasi Indonesia.

"Ada sebuah asumsi yang makin hari makin nyata. It's not about fundamental. Ini perang senyap yang terjadi. Rupiah dan IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) dihajar habis-habisan di kala fundamental ekonomi sedang bagus," jelasnya.

Gema memaparkan lima indikator riil yang membuktikan kekuatan fundamental ekonomi domestik saat ini:

  • Pertumbuhan Ekonomi: Kuartal I-2026 mencapai 5,61 persen, menjadi capaian tertinggi sejak 2021.
  • Laju Inflasi: Terkendali pada angka 3,08 persen.
  • Cadangan Devisa: Berada di posisi kuat sebesar US$146,2 miliar.
  • Rasio Utang: Porsi utang terhadap PDB terjaga di angka 40,75 persen.
  • Neraca Perdagangan: Periode Januari-April 2026 mencetak surplus sebesar US$5,64 miliar.

Menurutnya, seluruh capaian positif ini seharusnya direspon baik oleh pasar. Namun, Indonesia justru digiring lewat opini negatif agar terkesan menjadi lokasi investasi yang buruk.

"Seluruh data riil ini seharusnya memberikan sentimen positif terhadap pasar. Indonesia diasumsikan, dipersepsikan, dicocoklogikan sebagai tempat investasi terburuk. Sehingga muncul sale, sale, dan sale," ungkapnya.

Meski pasar modal terguncang, Gema menegaskan kondisi riil masyarakat membuktikan Indonesia tidak sedang berada di jurang krisis ataupun resesi ekonomi.

"Lihat saja pusat perbelanjaan, mal, atau restoran, masih banyak pengunjungnya. Nanti kita lihat ketika iPhone 18 keluar. Berapa panjang antrean orang Indonesia untuk membeli handphone seharga Rp35 jutaan. Artinya yang krisis itu orang-orang di financial market dan mereka yang menebar ketakutan dan hoaks," urainya.

Rentetan tekanan dari lembaga keuangan global berbasis Barat sepanjang 2026 dipaparkan secara rinci oleh Gema untuk memperkuat analisisnya:

  • Januari 2026: MSCI membekukan indeks Indonesia dan mengancam menurunkan status ke kategori frontier. Langkah ini melenyapkan kapitalisasi pasar hingga US$120 miliar. Pada momen yang sama, Goldman Sachs menurunkan peringkat saham Indonesia menjadi underweight, memicu aliran dana keluar (outflow) sebesar US$13 miliar.
  • Sektor Keuangan: UBS dari Swiss memotong penilaian sektor keuangan Indonesia dari buy menjadi netral, yang memperlemah sentimen investor global.
  • Februari 2026: Moody's secara mendadak mengubah outlook Indonesia menjadi negatif dengan menyoroti Danantara serta sektor fiskal. "Lagi-lagi yang disorot Danantara dan fiskal. Mohon maaf, kelemahan Danantara juga banyak. Misalnya, bagaimana laporan keuangan riilnya," tambahnya.
  • Mei 2026: MSCI mencoret 19 perusahaan dari indeks global miliknya, memicu penarikan dana pasif berkisar antara Rp28 triliun hingga Rp31,5 triliun.

Gema mengakui bursa domestik memiliki kelemahan di sektor transparansi data free float. Namun, langkah agresif lembaga internasional saat ini memunculkan tanda tanya besar karena persoalan tersebut sudah berlangsung lama.

"Ada tanda tanya besar, kenapa MSCI concern terhadap pasar modal kita pada saat ini. Padahal, persoalan ini sudah terjadi sejak dulu. Nah, yang pegang tombol itu MSCI, Goldman Sachs, Moody's, dan UBS, entitas poros AS atau Barat. Atau entitas poros kapitalis," pungkasnya. ***