PEKANBARU – Anak-anak sekolah dan warga Desa Silam bersama Desa Empat Balai di Kecamatan Kuok kini bisa bernapas lega setelah pembangunan Jembatan Merah Putih Presisi mencapai tahap finishing, Jumat (15/5/2026). Fasilitas penyeberangan ini dibangun untuk menggantikan jembatan kayu lama yang sebelumnya sempat viral karena kondisinya memprihatinkan dan mengancam keselamatan warga.

Selama bertahun-tahun, warga dan pelajar harus melewati struktur kayu yang sudah lapuk, miring, serta bergoyang di atas aliran sungai deras. Kondisi tersebut membuat anak-anak menghadapi risiko besar setiap hari demi menuntut ilmu, sehingga sebagian terpaksa memutar jauh atau menggunakan transportasi air yang rawan kecelakaan.

"Hampir anak jatuh ada juga," ungkap warga setempat, Nursimah.Merespons rentannya keselamatan masyarakat tersebut, warga setempat bersama para donatur, personel Polres Kampar, dan Polda Riau bergotong royong membangun infrastruktur baru. Pengerjaan yang sudah berjalan sekitar dua bulan ini tercatat telah mencapai progres 80 hingga 90 persen.

"Pembangunan jembatan ini merupakan swadaya ataupun gotong royong yang dilakukan oleh personel. Ini adalah Program Presiden RI yang dilaksanakan oleh Polri," urai Karo Ops Polda Riau, Kombes Pol Ino Harianto, saat meninjau lokasi bersama Dansat Brimob Polda Riau, Kombes Pol Ketut Adiwibawa.

Tujuan utama pendirian fasilitas ini adalah mempermudah akses warga yang selama ini terhambat akibat tingginya risiko saat menyeberang sungai. Kelancaran mobilitas warga ini diharapkan mampu mendorong peningkatan perekonomian sekaligus memberikan rasa aman bagi generasi muda yang berangkat ke sekolah.

Suasana berbeda kini mulai terlihat di lokasi proyek. Pelajar berseragam putih merah dan pramuka tampak ceria melintas tanpa ada lagi kekhawatiran yang selama ini membayangi langkah mereka.

"Terima kasih Presiden, terima kasih Kapolri. Kami senang, kini sudah ada jembatan baru," seru anak-anak sekolah sambil melambaikan tangan dari atas Jembatan Merah Putih Presisi. ***