
PEKANBARU - Fokus pada perubahan pola konsumsi audiens, YouTube Indonesia mengajak perusahaan media dan pembuat konten di Riau untuk lebih adaptif. Generasi Z kini menjadikan media sosial sebagai rujukan utama dalam mencari informasi terkini.
Penegasan ini disampaikan oleh Strategic Partner Manager YouTube Indonesia, Isabella Wibowo. Ia hadir secara virtual sebagai narasumber dalam workshop bertajuk "Pemanfaatan Artificial Intelligence untuk Produksi Konten Multimedia".
Kegiatan ini ditaja oleh Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Wilayah Riau dan disponsori oleh Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI) Riau adi Hotel Pangeran Pekanbaru, Kamis (27/8/2026). Dalam kesempatan ini, Isabella membedah evolusi dan strategi agar jurnalisme tetap relevan di era video digital.
Evolusi YouTube dalam Jurnalisme
Isabella menjelaskan bahwa YouTube bukan sekadar platform hiburan, melainkan sudah berevolusi menjadi ruang berita global sejak tahun 2007. Keterlibatan ini dimulai saat YouTube menghubungkan warga Amerika Serikat dengan kandidat presiden melalui siaran langsung debat.
"Pada 2014, Espresso TV di Ukraina menyiarkan protes selama 54 hari tanpa henti dan mengumpulkan lebih dari 17 juta jam waktu tonton," urainya memberikan contoh sejarah audiens berita digital.
Perkembangan berlanjut hingga ke ranah penghargaan jurnalistik bergengsi. Pada 2016, sebuah koran tertua di Kolombia memenangkan penghargaan internasional murni berkat liputan video yang diunggah ke YouTube.
Untuk lanskap lokal, YouTube kini bekerja sama dengan Festival Film Indonesia (FFI). Kerja sama ini membuka jalan bagi pembuat film dokumenter untuk mendaftarkan karya mereka ke ajang FFI meski hanya tayang di YouTube, tanpa keharusan tayang di bioskop atau layanan digital berlangganan.
Pergeseran Tren Penonton Gen Z
Merespons tantangan industri media saat ini, Isabella menyoroti fakta bahwa format berita tradisional sering kali belum memenuhi ekspektasi audiens modern. Terdapat pergeseran kebiasaan yang sangat signifikan di kalangan anak muda.
"Sebanyak 85 persen dari Gen Z yang sekarang menjadi penonton terbanyak di dunia digital, mengonsumsi beritanya di media sosial," paparnya.
Kondisi ini menuntut redaksi media untuk mengubah cara bercerita. Audiens muda tidak lagi sekadar mencari teks berita yang panjang, melainkan lebih menyukai visual berupa video pendek maupun dokumenter bergaya santai yang mudah dicerna.
Bahkan, saat ini lalu lintas berita tidak hanya didominasi oleh perusahaan media besar. Perusahaan media skala kecil maupun kreator berita independen memiliki peluang yang sama untuk menjaring audiens jutaan penonton jika mampu menyajikan cerita yang kuat.
Belajar dari Studi Kasus SCMP
Sebagai rujukan praktis, Isabella membagikan studi kasus dari South China Morning Post (SCMP) yang sukses mendulang penonton lintas negara. Menariknya, SCMP tidak memulai pembaruan visual mereka dengan membeli perlengkapan siaran kelas televisi yang mahal.
"Mereka hanya menggunakan kamera biasa atau DSLR, mengganti lensa, dan membuat studio kecil dengan latar layar hijau," jelasnya.
SCMP menerapkan model jurnalis video, dimana satu orang reporter bertugas meriset, menulis, merekam, dan meliput sendiri di lapangan. Proses tersebut kemudian didukung oleh tim internal untuk penyuntingan dan pembuatan grafis bergerak.
Dari sisi kuantitas, SCMP meningkatkan frekuensi unggahan mereka dari dua video menjadi tujuh hingga sepuluh video per minggu. Mereka membagi jenis konten mulai dari berita peristiwa, gelar wicara, konten hiburan ringan, hingga penjelasan topik viral yang dikemas rapi.
Tiga Pilar Optimasi Saluran
Untuk menerapkan keberhasilan serupa, ada tiga fondasi utama yang ditawarkan kepada peserta di Pekanbaru. Ketiga fondasi tersebut mencakup strategi konten, kemudahan penemuan, dan konsistensi unggahan.
Terkait kemudahan penemuan, kemasan luar video menjadi elemen yang harus diperhatikan serius. Gambar pratinjau video harus memiliki warna cerah, kontras tinggi, dan elemen wajah yang mudah dibaca saat dibuka melalui layar ponsel pintar.
Selain visual gambar, penulisan judul tidak kalah penting. Isabella menyarankan agar judul dibuat ringkas di bawah 70 karakter dengan meletakkan kata kunci peristiwa atau nama tokoh di bagian paling awal.
"Judul dan gambar pratinjau ini sangat berpengaruh. Jika judulnya tidak ada hubungannya atau membohongi penonton, mereka hanya akan menonton sebentar lalu menutup video, dan sistem algoritma akan menganggap konten tersebut tidak menarik," tegasnya.
Kolaborasi AI dan Konsistensi
Terkait konsistensi, media didorong untuk memiliki jadwal tayang yang rutin. Jika sebuah redaksi hanya mampu memproduksi dua video berkualitas dalam seminggu, jadwal tersebut harus dipertahankan tanpa terputus agar sistem rekomendasi YouTube bekerja maksimal.
Menjelang akhir presentasi, moderator merangkum materi dan membuka sesi tanya jawab. Seorang peserta menanyakan dampak penggunaan kecerdasan buatan (AI) terhadap jangkauan penonton di YouTube, mengingat topik utama kegiatan ini adalah pemanfaatan AI.
Penggunaan AI dalam proses penyuntingan, pembuatan kerangka naskah, atau mencari sudut pandang berita sangat diperbolehkan dan dapat membantu efisiensi redaksi. Selama hasil akhirnya tetap dikemas menjadi konten yang relevan dan tidak melanggar hak cipta, jangkauan tayangan akan tetap stabil.
Acara ini juga diisi oleh Dimas Ibrahim, Product Manager Tempo Digital; Elga Maulina, Senior Editor dan Social Media Specialist Suara.com; serta Isabella Wibowo, Strategic Partner Manager YouTube Indonesia. ***