SELATPANJANG, GORIAU.COM - Rabu (4/6/2014) pagi, empat anggota polisi ditemani seorang warga menggerebek kediaman Herman (21) di Parit Gantung Desa Kedabu Rapat Rangsang Pesisir, Kabupaten Kepulauan Meranti, Riau. Dari penggerebekan itu pulalah perut bagian kanan Herman ditembak polisi hingga tembus.
Menurut warga setempat, Andi, yang juga sahabat korban ketika ditemui di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kabupaten Kepulauan Meranti, Rabu pagi itu mengatakan, Herman datang kerumahnya dalam keadaan berlumuran darah.
"Sampai di rumah pagi itu, Ia (Herman, red) langsung tumbang tak berdaya. Saya lihat telinga, hidung, serta mulutnya berdarah," kata Andi.
Ditambahkan Andi lagi, alangkah terkejutnya ketika Ia melihat sumber darah yang membasahi baju Herman adalah dari perut bagian kanan. Ketika dibuka, terlihat ada lobang di perut yang menembusi bagian belakangnya.
Dengan sisa tenaga Herman bercerita kepada Andi kalau dirinya barusaja digrebek oleh empat orang polisi (waktu itu tidak berpakaian dinas), dan perutnya ditembak hingga tembus.
"Waktu itu Herman sedang tidur, tiba-tiba datang orang masuk kerumah dan mau menangkapnya. Dia mengaku kaget dan melawan, apalagi di kampung orang sedang resah oleh perampok. Tentu dia melawan karena dia tidak tahu yang datang pagi itu adalah polisi," kata Andi lagi.
Tidak banyak yang bisa diceritakan anak nomor 4 dari 7 bersaudara tersebut waktu itu, sebab kondisinya sudah melemah. Kemudian Andi sibuk mencari pertolongan dengan menemui Ibu Herman, namun tidak ditemui.
"Tidak berhasil ketemu Ibu nya tetapi saya bertemu abang kandung Herman yang bernama Hendra di kedai. Kemudian kami bawa ke Puskesmas Parit Amat, tetapi orang Puskesmas tidak sanggup," tutur Andi pula yang kemudian mereka membawa Herman ke RSUD.
Andi juga bersyukur bahwa saat melarikan diri pasca ditembak itu Herman tidak kenapa-napa di jalan. Pasalnya untuk sampai ke rumah Andi yang berjarak sekitar 500 meter itu Herman harus menempuh semak belukar.
"Kalau dia tumbangnya di semak, siapa yang bisa menyelamatkan dia. Bisa-bisa dia sudah mati," ungkap Andi pula.
Sementara itu, menurut Saidul Bahri yang merupakan RT02 (RT tempat Herman tinggal, red), Ia sama sekali tidak mengetahui ada penggrebekan terhadap warganya, dan waktu itu pula Ia dan masyarakat lain sedang berkebun. Tetapi, setelah terjadi peristiwa penembakan itu, Ia diminta polisi menandatangani surat penangkapan terhadap Herman namun tak Ia tandatangani.
"Saya diminta menandatangani surat itu. Saya tidak mau," ujar Saidul Bahri.
Kemudian, ketika ditanya awal mula penyebab pertikaian antara warga dengan polisi ini, Andi dan Saidul bercerita bahwa pada Minggu (1/6/2014) malam Herman pergi menonton acara keyboard di rumah warga Parit Pisang yang menggelar acara pernikahan. Tiba-tiba salah seorang warga merampas rokok yang dipegang Herman dan membuangnya.
"Rokoknya diambil dan dibuang. Tapikan waktu itu Herman tidak joget jadi tidak akan membahayakan orang yang ada di sana. Melihat tingkah warga yang tak menyenangkan itu, Herman langsung bertanya ke keamanan yang ada di lokasi acara, polisi bilang tidak tau. Itu sempat membuat Herman kecewa dan marah," jelas Andi yang waktu itu hadir juga di tempat acara kepada wartawan.
Kemudian, pada malam itu pulalah mereka sudah menganggap insiden kecil tersebut sudah selesai. Tapi rupanya berlanjut pada Rabu pagi yang menyebabkan perut Herman tertembus timah panas.
Sementara itu, menurut Kasat Reskrim Polres Meranti, AKP Antoni L Gaol SH MH menjelaskan bahwa, kejadian bermula Senin (2/6/2014) sekira pukul 22.000 WB di Parit Pisang Desa Melai Kecamatan Rangsang Barat. Waktu itu Herman telah menganiaya Brigadir Sukrizal dengan cara memukul kening sebelah kiri.
Kemudian Herman melakukan tindak pidana dengan melakukan pengrusakan terhadap kendaraan bermotor jenis Honda Vario milik Brigadir Yayan, selanjut pelaku langsung melarikan diri.
Lalu Rabu pagi sekira pukul 09.00 WIB polisi melakukan penangkapan terhadap pelaku namun pelaku melakukan perlawanan dengan cara menikam dada Brigadir T Erick menggunakan sebilah badik kemudian menikam Brigadir Herianto tepat di paha sebelah kiri.
Diceritakan Antoni lagi, merasa terancam dengan prilaku Herman yang sudah membabi buta dan mengancam nyawa, lalu Brigadir Herianto melakukan penembakan peringatan ke arah atas sebanyak 1 kali. Bukannya berhenti, pelaku kemdian melakukan penikaman terhadap 1 orang warga bernama Habibi, selanjutnya Brigadir Herianto langsung menembak pelaku dan mengenai perut sebelah kanan pelaku.
"Saat ini terhadap tersangka sedang dirawat dan Brigadir T Erik dan Brigadir Erianto juga masih dalam perawatan medis," ujar Antoni.
Ketika ditanya kelanjutan kasus ini, Antoni mengatakan tetap akan melakukan penahanan dan memeriksa Herman. Sementara kalau memang anggota polisi yang menyalahi tetap akan diproses karena tidak ada yang kebal hukum.
"Kita semua sama di mata hukum," tutupnya.
(zal)