
PEKANBARU – Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Riau menggelar diskusi dan nonton bersama film dokumenter Pesta Babi di lingkungan kampus Universitas Riau, Ahad (10/5/2026) malam. Kegiatan tersebut diikuti ratusan mahasiswa dan masyarakat umum.
Film Pesta Babi merupakan dokumenter kolaborasi Watchdoc dan Jubi Media yang mengangkat persoalan krisis ekologis, kemanusiaan, serta perampasan tanah adat di Papua.
Presiden Mahasiswa Universitas Riau, Muhammad Azhari, mengatakan kegiatan itu menjadi bentuk kepedulian mahasiswa terhadap kondisi masyarakat adat di Papua.
“Ini bentuk kesadaran kolektif kawan-kawan untuk terus menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, khususnya kepada masyarakat adat di Papua yang hari ini terus mengalami eksploitasi ruang hidup dan tanah adat mereka,” kata Azhari kepada awak media, Senin (11/5/2026) dini hari seusai pemutaran film.
Menurut dia, kegiatan tersebut juga bertujuan meningkatkan solidaritas mahasiswa terhadap persoalan yang terjadi di Papua.
“Mudah-mudahan kegiatan ini menambah kesadaran kolektif untuk terus bersolidaritas dan menyuarakan kondisi masyarakat di Papua,” ujarnya.
Azhari menegaskan selama proses persiapan hingga pelaksanaan kegiatan, pihaknya tidak mendapat intervensi ataupun gangguan dari pihak manapun.
“Mulai dari persiapan sampai pelaksanaan tidak ada intervensi ataupun gangguan,” katanya.
Ia menyebut BEM Unri juga terus membangun komunikasi dengan mahasiswa Papua dan jaringan mahasiswa nasional untuk memantau perkembangan situasi di Papua.
“Kami terus berkoordinasi dengan presiden mahasiswa di Papua dan juga dengan Himpunan Mahasiswa Papua Riau,” ujarnya.
Sementara itu, anggota Himpunan Mahasiswa Papua Riau (Himapari) Unri, Yonius, menilai film tersebut memberikan gambaran mengenai kondisi masyarakat adat Papua yang menghadapi persoalan ruang hidup dan penggusuran lahan.
“Film ini memberikan kesadaran untuk melihat Papua secara utuh dan memahami kondisi masyarakat adat yang mengalami perampasan ruang hidup,” kata Yonius.
Film dokumenter Pesta Babi sebelumnya juga diputar di sejumlah daerah di Indonesia dan mengangkat isu pembangunan serta dampaknya terhadap masyarakat adat di Papua. ***