
PEKANBARU - Objek wisata alam Batu Tilam, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau, yang mempesona kini kembali ramai dikunjungi. Sejumlah wisatawan bisa menikmati wisata alam yang asri hingga berkemah.
Lokasi berkemah digelar di bawah bebatuan di bibir mulut gua. Lokasi itu dikelilingi hutan dengan air terjunnya yang alami dan memiliki sensasi luar biasa.

Air terjun Batu Tilam berada di mulut gua di punggung Bukit Barisan yang melintasi daerah itu. Lokasinya jauh dari keramaian kota, tepatnya di wilayah Desa Kebun Tinggi, Kecamatan Kampar Kiri Hulu.

Di sini masih terdengar suara siamang dan bermacam-macam jenis burung yang saling bersahutan.
Berbagai macam kayu hutan yang sudah langka juga masih bisa dijumpai di tempat ini. Bahkan diantaranya berdiameter sangat besar sehingga perlu 2-3 pelukan orang dewasa untuk menggapainya.

Untuk sampai ke Batu Tilam, wisatawan membutuhkan persiapan matang. Sebab lokasinya berjarak 170 KM dari ibu Kota Provinsi Riau, Pekanbaru yakni di Kampar Kiri, Kampar.
Untuk bisa ke lokasi, harus menggunakan sepeda motor. Bisa juga dengan mobil, namun harus dengan mobil yang memiliki penggerak roda depan atau four wheel drive dengan dilengkapi penarik beban.
Tidak cukup disitu, sang sopir juga harus dibekali keahlian dan mental baja. Sebab, untuk sampai ke lokasi akan melintasi jalan aspal, tanah, bebatuan hingga akses curam di tengah hutan Bukit Barisan.
"Ya begitulah kondisi jalan menuju Wisata Batu Tilam. Apalagi saat hujan turun, ke lokasi yang normal ditempuh antara 4-6 jam atau bisa lebih antara 8-10 jam perjalanan," cerita seorang wisatawan, VJ Oki, Jumat (11/2/2022).
Saat ini, keberadaan air terjun Batu Tilam mulai dibenahi oleh perangkat desa beserta warga pada tahun 2015 lalu. Kemudian, di tahun 2019, perangkat desa Kebun Tinggi bersama tokoh masyarakat dan warga melakukan musyawarah untuk menjadikan air terjun Batu Tilam sebagai objek wisata.
Letaknya yang berada di hamparan hutan Bukit Barisan menjadikan udara di Batu Tilam sejuk. Belum lagi suara derasnya 27 air terjun yang ada di sekitar perkemahan yang menjadi spot utama wisatawan. Pengunjung dapat istirahat di pelataran berkanopi tebing Bukit Barisan dengan pemandangan paginya matahari terbit.
"Dari 27 air terjun di wisata alam Batu Tilam, hingga saat ini yang baru 4 yang bisa dikunjungi dan dinikmati termasuk gua kelawar," ujar VJ Oki.
Selain sensasi alam, wisatawan juga bisa dapat banyak pengetahuan di sini. Sebab lokasi mulut gua dahulunya adalah tempat berlindung para pejuang Indonesia dari serangan penjajah Belanda.
"Katanya asal usul Batu Tilam ini karena di masa penjajahan Belanda dipakai pejuang kita untuk tidur. Batu inilah yang jadi alas, itulah kenapa disebut Batu Tilam," imbuh pria asal Pekanbaru tersebut.
Sementara, menurut Kepala Desa Kebun Tinggi, Joni, ada cerita rakyat mengenai keberadaan Air Terjun Batu Tilam.
Ia mengatakan pada zaman dulu ada orang tua yang pergi merantau untuk menyambung hidup ke lokasi air terjun itu sambil bekerja membuat amunisi untuk berperang.
"Dulunya di bibir gua yang berada tepat di balik Air Terjun Batu Tilam merupakan lokasi tempat tinggal leluhur kami merantau untuk menyambung hidup ketika zaman Belanda hingga Jepang menjajah Indonesia," jelasnya.
"Sambil berlindung, dua orang tua kami membuat bencui atau amunisi berperang. Di lokasi itu ada batu tempat beristirahat, namanya Batu Tilam. Artinya alas tempat tidur. Dari cerita itulah nama air terjun ini disebut masyarakat," katanya.
Untuk mengelilingi 4 dari 27 air terjun yang bisa diakses, wisatawan hanya dikenakan tarif Rp 35 ribu/hari. Tarif itu masuk ke kas desa setempat untuk modal pengelolaan kebersihan dan sebagainya.
Objek wisata alam Batu Tilam telah berhasil meraih Juara 1 Anugerah Pesona Indonesia V tahun 2020 lalu. Batu Tilam disebut surga tersembunyi di Bumi Lancang Kuning yang masih perlu terus digali potensinya, dibarengi peningkatan aksesibilitas, amenitas, dan atraksinya. ***