JAKARTA - Nevaeh Marie Landell, bayi berusia 10 minggu, meninggal setelah berulang kali diberi ibunya ASI (air susu ibu) dicampur air.

ASI bercampur air tersebut telah mengakibatkan penurunan elektrolit dan natrium dalam tubuh Nevaeh sehingga menyebabkan otaknya membengkak.

Jaksa penuntut mendakwa kedua orangtua Nevaeh, yakni Herbert George Landell dan Lauren Heather Fristed tidak mengobati anaknya yang sakit, dengan alasan kepercayaan agama mereka. Ketika dibawa ke rumah sakit, kondisi Nevaeh sudah parah, sehingga tak bisa tertolong.

Landell didakwa telah melakukan penyiksaan dan pembunuhan. Sedang Fristed didakwa melakukan penyiksaan sadis terhadap anak-anak. Laporan berita US menyatakan bahwa keduanya berada dalam penjara tanpa jaminan.

Kejadian tragis ini disebabkan oangtua bayi tidak memiliki pengetahuan tentang cara merawat bayi yang benar.

Tak Perlu Air Tambahan

Pakar-pakar laktasi dari Oganisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan La Leche League International (LLLI) mengatakan, bayi yang disusui ibu secara eksklusif tidak memerlukan air minum tambahan. Karena, air susu ibu mengandung 88% air. ASI memenuhi semua kebutuhan bayi.

Pakar dari WHO, Academy of Breastfeeding Medicine, American Academy of Pediatrics dan KellyMom.com menjelaskan risiko lainnya memberikan air kepada bayi yang berusia di bawah enam bulan, diantaranya bisa mengganggu frekuensi normal penyusuan ASI dan menyebabkan kekeliruan bayi tehadap puting bila air diberikan dari botol.

Memberikan makanan tambahan seperti air atau air glukosa kepada bayi yang baru lahir bisa menyebabkan penyakit kuning.

Pemberian air kepada bayi di bawah satu tahun bisa menyebabkan ayan, kerusakan otak dan bahkan kematian.

Walaupun cuaca sangat panas, tidak memerlukan air tambahan. Sang ibu yang perlu meningkatkan intensitas menyusui agar bayi tidak dehidrasi.***