PEKANBARU, GORIAU.COM - Banyaknya bapak-bapak yang main wanita lain, ternyata menbuat banyak ibu-ibu melakukan gugat cerai. Seperti yang terjadi di Pekanbaru. Hingga bulan Agustus ini sedikitnya tercatat ada 942 cerai gugat dan 409 cerai talak. Artinya jumlah yang cerai di Pekanbaru mencapai 1.341 orang hingga bulan Agustus lalu, dari angka itu kebanyakan perceraian diminta oleh kaum ibu-ibu.

Hal ini dikemukakan Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Pekanbaru, Edwar S Umar MAg dalam pertemuan tokoh lintas agama di kantor Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB) Pekanbaru, Selasa (17/9/2013). Kegiatan yang dihadiri puluhan tokoh dan pemuda lintas agama ini dibuka oleh Walikota Pekanbaru, Firdaus MT.

''Ini mungkin disebabkan bapak-bapak mengikuti tradisi raja-raja zaman dulu yang hidup dengan banyak istri, dayang-dayang dan selir,'' ungkap dia. Tradisi ini sebelumnya tak terlalu dipermasalahkan. Tapi karena dunia makin modern banyak kaum wanita yang lebih peka dengan permasalahan ini.

Untuk menghindari hal ini, sebagai suami jangan terlalu banyak menuntut pada istri. Sebaliknya, istri juga wajib mencintai suami dengan totalitas. Sehingga perceraian dapat diminimalisir. "Kita tidak inginkan tingkat perceraian begitu tinggi lagi di Pekanbaru," ungkap Edwar.

Edwar juga menekankan bahwa semua permasalahan tersebut bisa diselesaikan atas bantuan dan peran tokoh agama. "Sekali tokoh agama berbicara akan lebih baik daripada sepuluh kali pejabat yang bicara," ujar dia.

Pernyataan Edwar itu diamini oleh Walikota Pekanbaru, Firdaus MT. Menurut Firdaus, tokoh agama memiliki peran yang besar dalam menuntaskan permasalahan moral di Pekanbaru. Termasuk dalam mempererat hubungan antarkelompok masyarakat Pekanbaru yang multi etnis, agama dan bahasa.

Dijelaskannya, dengan tampilnya Pekanbaru sebagai kota metropolitan, sulit dihindari jika ada orang dari daerah lain pindah dan berdomisili di kota ini. Mereka datang tentunya dengan latarbelakang yang berbeda-beda.

Pertumbuhan dan pembangunan di Kota Pekanbaru juga semakin pesat. Pasalnya, berdasarkan survey, Pekanbaru bisa menjadi kota tujuan investasi yang paling utama di Sumatera. Agar pembangunan itu terwujud, tentunya masyarakat harus mampu tumbuh berkembang sebagai keluarga besar. Yaitu masyarakat yang saling mendukung dan bahu membahu tanpa membedakan suku, agama dan bahasa.

Hal ini patut diciptakan. Bukan tercipta sendiri. Kalau tidak dijaga dan dipimpin dengan baik, berbagai perbedaan dalam masyarakat ini bisa menjadi malapetaka. Bahkan akan rawan dari konflik. Karena itu, perlu peran dari tokoh agama untuk menghindari hal itu. Menurut Firdaus, para tokoh agama akan lebih didengar. Karena itu masing-masing tokoh harus dapat bekerjasama dan saling memahami. Sehingga kerukunan hidup antarumat beragama bisa tercipta. ***