DURI - Karena himpitan ekonomi, kini banyak walimurid di Duri, Kecamatan Mandau, Kabupaten Bengkalis, Riau, mengeluhkan biaya pendidikan yang masih mahal.

Dengan status pengangguran, karena pemutusan hubungan kerja (PHK) yang belum lama dilakukan perusahaan Sub Kontraktor Migas di Duri, ayah empat orang anak ini menyampaikan jeritannya.

"Dulu saya tidak pernah tahu mengenai uang buku cetak dan lks (lembar kerja siswa) anak. Karena biasanya mereka minta ke ibu nya. Saat tidak bekerja lagi, begitu anaknya minta uang lks, ibunya minta kepada saya untuk bayar buku cetak dan lks anak," kata Ali, salah seorang walimurid SMA tervaforit di Duri kepada GoRiau.com, Jumat (19/8/2016).

Ali mengaku kaget dengan nominal harga 1 LKS yang sampai Rp45 ribu untuk satu matapelajaran Bahasa Inggris. Bahkan ada juga yang Rp40 ribu matapelajaran Kewarganegaraan serta Rp18 ribu untuk mata pelajaran Bahasa Jerman.

"Bukan tidak mau membayar LKS anak, tetapi jika 1 LKS saja harganya sudah hampir Rp50 ribu gitu, bagaimana jika 10 LKS untuk bidang studi lainnya. Belum lagi buku cetaknya, bukan hanya yang SMA ini saja anak saya yang mau sekolah, masih ada kakaknya juga juga harus menyelesaikan tugas akhirnya dengan biaya lebih besar lagi, sementara saya sekarang tidak lagi bekerja," ujar Ali lagi.

Selain itu, lanjutnya, setiap sekolah mulai dari jenjang SD sama SMA sederajat juga sudah mendapat dana Bantuan Operasional Sekolah yang didalam aturan penggunaannya juga ada untuk pengadaan buku pelajaran siswa.

"Pemerintah memberikan dana BOS itu kepada sekolah berdasarkan jumlah siswa di sekolah tersebut, dimana untuk tingkat SMA itu dihitung Rp1 juta 400 ribu persiswa dikalikan jumlah siswa. Bukan dana yang sedikit itu untuk satu tahun, kalau menurut saya. Apakah tidak bisa sekolah memasukan pengadaan buku pelajaran atau LKS dalam penggunaan dana tersebut," beber Ali lagi mengkritisi penggunaan dana BOS ditempat anaknya bersekolah tersebut.

Saat ditanyakan Guru SMA manakah yang menjual LKS seharga yang disebutkannya tadi, Ali menjawab, masih sekolah unggulan di Duri.

"Tidak usah saya sebutkan namanya, tetapi saya sudah sampaikan hal ini juga kepada sejumlah anggota DPRD Bengkalis bidang pendidikan untuk mempertanyakan ulah oknum guru yang mencari keuntungan dari murid ini. Namun saya tidak bohong dengan apa yang saya katakan, saat diminta bukti nanti saya akan tunjuk sekolah mana yang saya maksud," tegasnya lagi.

Masih dikatakan Ali, mungkin setelah dirinya menyampaikan hal ini di media, para orangtua lainnya juga akan mengkritisi hal yang sama, khususnya walimurid yang tidak lagi bekerja alias pengangguran.

"Karena yang diutamakan sekrang mencari uang untuk makan, bertahan hidup. Kalau pendidikan saya rasa pemerintah sudah sangat membantu, hanya realisasinya di masing-masing sekolah kurang tepat," tutupnya.

Sementara itu, untuk menjawab keluhan walimurid ini, Plt Kepala UPT Dinas Pendidikan Mandau, M Rasyid tidak bisa ditemui dan tidak bisa dihubungi. Begitu juga halnya dengan Plt Kepala Dinas Pendidikan Bengkalis, Heri Indra Putra maupun Sekretaris Dinas Pendidikan Bengkalis, Supardi.***