TEMBILAHAN, GORIAU.COM - Anggota Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), Yuliantini merasa heran dengan Disdik dan BKD Inhil yang memberikan izin kepada guru-guru yang pindah dari daerah pedesaan ke perkotaan.

Politisi Partai Golongan Karya ini mengibaratkan, kejadian ini layaknya seorang istri yang ditinggalkan sang suami, dimana para siswa yang ditinggalkan gurunya akan sangat menderita dan sulit mengenyam pendidikan.

''Ini ibarat istri yang ditinggal suami, siapa yang menderita, yang menderita itu istri,'' tukas Yuliantini.

Ia mengatakan, mungkin baik bagi Disdik maupun BKD Inhil tidak merasakan langsung akibat pindahnya guru-guru tersebut, namun bagi para siswa di pedesaan, kondisi ini sama saja seperti menghambat mereka dalam mendapatkan pendidikan.

Yuliantini mencontohkan, seperti yang terjadi SMAN Tunas Bangsa Pulau Burung, pada tahun 2009 ditempatkan 9 orang guru PNS, dan saat ini dikatakannya guru PNS hanya tersisa 2 orang saja untuk mengajar 316 murid atau pada 9 rombongan belajar.

Sementara dikatakannya, di SMPN 2 Tembilahan, dengan 21 rombongan belajar, ada 42 orang guru yang mengajar, sehingga sekolah tersebut memiliki kelebihan 21 orang guru.

''Pindahnya guru dari pedesaan ke perkotaan ini bukan main-main, bagaimana pendidikan di Inhil ini bisa maju, Disdik dan BKD saja dengan mudah kasi izin pindah. Untuk itu kedepan, saya harap kejadian ini tidak terulang kembali,'' harap Yuliantini.(ayu)