PEKANBARU – Badan Anggaran (Banggar) DPRD Provinsi Riau mulai melihat celah untuk mendongkrak postur Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Perubahan (APBDP) Riau 2026. Dari pembahasan bersama Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD), Banggar optimistis APBDP Riau berpotensi berada di atas angka Rp8,3 triliun.

Optimisme itu muncul setelah Banggar melakukan pendalaman terhadap program dan anggaran masing-masing organisasi perangkat daerah (OPD) bersama komisi-komisi DPRD Riau. Pembahasan kemudian dilanjutkan dengan TAPD untuk mengukur kembali kemampuan pendapatan daerah.

Ketua Banggar DPRD Riau, Kaderismanto, mengatakan pembahasan saat ini salah satunya diarahkan untuk melihat tren penerimaan daerah serta potensi pendapatan yang masih bisa digali.

Menurutnya, sejumlah sektor pendapatan menunjukkan tren positif sehingga peluang peningkatan postur APBD masih terbuka.

“Rapat Banggar dan TAPD ini penting karena kita melihat pergerakan pendapatan kita. Trennya memang ada beberapa item dan sektor yang mengalami peningkatan,” kata Kaderismanto, Rabu (2/9/2026).

Ia menegaskan tren peningkatan tersebut tidak boleh dibiarkan berjalan tanpa pengawalan. Pemerintah daerah, khususnya Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Riau, diminta bekerja lebih agresif untuk mengejar potensi penerimaan yang selama ini belum maksimal.

Kaderismanto menilai Bapenda menjadi salah satu ujung tombak dalam menjaga sekaligus meningkatkan kapasitas fiskal daerah. Karena itu, personel di lapangan harus diperkuat untuk memastikan seluruh potensi pajak dapat dioptimalkan.

“Bapenda harus lebih giat lagi menerobos beberapa sektor. Saya lihat Bapenda cukup bagus dan cukup gigih, terutama dari PBBKB dan PKB,” ujarnya.

Menurut politisi PDIP ini Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor (PBBKB) dan Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) menjadi dua sektor yang menunjukkan kinerja cukup baik termasuk Pajak Air Permukaan. Namun, Banggar masih melihat peluang dari sektor-sektor PAD lainnya.

Kondisi tersebut membuat DPRD Riau melihat adanya ruang untuk meningkatkan proyeksi pendapatan dibandingkan angka sebelumnya.

Kaderismanto bahkan memperkirakan APBD Riau 2026 masih berpeluang melampaui Rp8,3 triliun.

“Saya kira trennya mungkin bisa di atas itu. Mungkin bisa di atas Rp8,3 triliun karena tren dari beberapa sektor memang naik,” katanya.

Meski demikian, Banggar masih akan mencermati seluruh angka secara lebih mendalam bersama TAPD. Proyeksi pendapatan harus dihitung secara realistis agar peningkatan APBD tidak sekadar berada di atas kertas, tetapi benar-benar ditopang kemampuan penerimaan daerah.

Bagi DPRD Riau, peningkatan pendapatan menjadi penting di tengah kebutuhan belanja pembangunan yang terus meningkat. Semakin kuat pendapatan daerah, semakin besar pula ruang fiskal yang tersedia untuk membiayai program yang berdampak langsung kepada masyarakat. ***