
PEKANBARU - Bahaya peredaran narkoba, khususnya Pekanbaru, Riau kian mengkhawatirkan. Kenapa tidak, belakangan kepolisian berhasil menemukan fakta mencengangkan, bahwa barang haram ini sudah bercampur dengan bahan-bahan berbahaya seperti soda api dan tawas.
Bayangkan saja efek jangka pendek dan efek jangka panjang yang ditimbulkan jika narkoba tersebut sampai dikonsumsi para penyalahguna. Belum lagi kandungan zat-zat lainnya, di luar campuran narkoba yang asli. Itu terbukti dari beberapa ungkap kasus, khususnya di Pekanbaru, Riau.
"Kita temukan bahan soda api dan tawas dari rumah pengedar narkoba. Pengakuannya bahan tersebut dicampur dengan narkoba asli khususnya Sabu supaya lebih banyak. Bayangkan, efek narkoba asli sudah merusak, ditambah lagi zat berbahaya," kata Wakapolresta Pekanbaru, AKBP Sugeng Putut Wicaksono.
Putut yang ditemui GoRiau.com di ruangannya, Senin (25/4/2016) siang menjelaskan, bahan ini harusnya tidak boleh dikonsumsi manusia. Ia memastikan kalau hampir secara keseluruhan, narkoba yang beredar di Pekanbaru tidak asli, atau juga oplosan dan dicampur bahan berbahaya tersebut.
"Di negara lain harga sabu itu murah. Impactnya bandar narkoba mencari pasar besar dan arahnya ke Indonesia termasuk Pekanbaru, Riau. Di sini harganya mahal dan mereka untung besar. Sampai di sini dicampur lagi dengan bahan berbahaya agar lebih banyak. Itu faktanya saat ini," beber dia.
Bukti lainnya, kata Putut, kebanyakan penghuni Rumah Sakit Jiwa (RSJ) ternyata para pemakai dan pengkonsumsi narkoba. Untuk menekan peredaran dan dampak barang terlarang ini, pihaknya memperketat pengawasan. Ada beberapa wilayah yang jadi prioritas, diantaranya Kampung Dalam, Pangeran Hidayat dan Pesisir, Rumbai.
Cara lainnya, ungkap Putut, dengan menerapkan hukuman keras terhadap pengedar tersebut. "Selain hukuman penjara, kita juga akan menerapkan pasal TPPU (Tindak Pidana Pencucian Uang). Karena uang hasil penjualan narkoba akan kita sita untuk negara. Mudah-mudahan ini bisa memberi efek jera bagi mereka," ungkapnya.
Diakui Putut, saat ini Polresta Pekanbaru cenderung menangkap para pengedar di kalangan level menengah. Itu dikarenakan banyaknya cara jaringan-jaringan tersebut untuk memutus mata rantai mereka saat kaki-kai (kurir) berhasil diamankan polisi.
"Bisa jadi mereka tak mau bicara disebabkan beberapa faktor, pertama dijanjikan sesuatu oleh bandar besarnya, atau ketakutan bila buka mulut dan faktor terakhir bisa disebabkan ketidaktahuan siapa bos mereka. Karena bandar narkoba saat ini sudah semakin licin, mereka sengaja tidak berinteraksi langsung dengan bawahanya dengan maksud menyembunyikan identitas," tukas dia. ***