
PEKANBARU – Warga Kota Pekanbaru kini dihadapkan pada ancaman krisis lingkungan yang nyata. Fenomena El Nino ekstrem diperkirakan akan memicu kemarau panjang yang menguras cadangan air dan secara drastis meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) selama tujuh bulan ke depan hingga Oktober 2026.
Peringatan darurat bencana kekeringan ini menuntut masyarakat untuk lebih waspada dan menghindari segala aktivitas yang berpotensi menciptakan titik api. Wakil Wali Kota Pekanbaru, Markarius Anwar, menegaskan larangan keras bagi warga untuk membuka lahan dengan cara dibakar.
"Selama tujuh bulan ke depan berkemungkinan kita akan dihadapkan dengan musim panas. Maka dari itu kita berharap kepada masyarakat, jangan bakar sampah di sembarang tempat, dan jangan bakar lahan," ujar Wakil Wali Kota Pekanbaru, Markarius Anwar, usai mengikuti Apel Kesiapsiagaan Pengendalian Karhutla 2026 di Kompleks Pertamina Hulu Rokan, Rumbai, Sabtu (25/4/2026).
Kewaspadaan tingkat tinggi sangat krusial mengingat cuaca terik akan mengubah semak belukar menjadi material yang sangat mudah tersulut. Kesalahan fatal dari kebiasaan sepele membuang puntung rokok atau membakar sampah rumah tangga dapat memicu bencana asap yang melumpuhkan kota.
Keseriusan ancaman ini mendapat perhatian langsung dari pemerintah pusat. Apel kesiapsiagaan tersebut dipimpin oleh Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Hanif Faisol Nurofiq, yang turun memberikan instruksi penanggulangan karhutla di tengah kondisi cuaca ekstrem.
"Kita nanti akan melaksanakan rapat koordinasi dengan menteri, terkait kesiapsiagaan kita dalam penanggulangan kebakaran terutama lahan di Pekanbaru," jelasnya.
Pemerintah kota mengklaim telah mengaktifkan seluruh skema mitigasi bencana. Langkah ini diprioritaskan untuk memastikan kesiapan seluruh personel dan armada pemadam di lapangan dalam menghadapi puncak anomali cuaca yang kerap dijuluki Godzilla El Nino. ***