
PEKANBARU, GORIAU.COM - Mahasiswa asal Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing) meminta aparat kepolisian Riau tidak hanya menangkap pekerja Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) saja, namun para cukong-cukong yang saat ini masih berkeliaran.
"Jangan masyarakat kecil yang mencari nafkah saja ditangkap, tapi Polda Riau harus mengejar para cukong yang punya mesin Dompeng itu," ungkap Irhayandi, Koordinator Aliansi Mahasiswa Peduli Kuansing (AMPK) kepada GoRiau.com, Selasa (18/2/2014).
Dikatakan Irhayandi, warga yang saat ini ditahan oleh Polda Riau hanyalah korban dari aktivitas PETI Kuansing. Dimana, mereka tidak mengerti dengan apa yang mereka lakukan. Sebab, yang menjadi pedoman mereka hanyalah memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. "Mereka hanya mencicipi sedikit dari apa yang mereka kerjakan," terangnya.
"Sementara, para Cukong atau pemilik modal berleha-leha, bahkan bisa memberikan upeti kepada oknum penegak hukum," lanjutnya. Dengan itu, AMPK menilai aktivitas PETI akan tetap berlanjut. Karena, para Cukong pasti akan merekrut tenaga kerja baru.
Berdasarkan data yang dimiliki AMPK, beberapa pekerja PETI berasal dari luar Kuansing. Namun, mesin yang mereka gunakan itu milik orang-orang yang berpengaruh di wilayahnya. "Mesin itu pasti milik para pembesar di Kuansing. Karena, mana mungkin berani orang luar datang ke Kuansing hanya untuk illegal meaning, kalau tidak ada yang back up-nya," katanya.
Hal itu pula, lanjut Irhayandi yang mengindikasikan adanya keterlibatan aparat kepolisian dalam permainan PETI. Karena, setiap hari mesin selalu berbunyi, namun aparat kepolisian sering tidak tahu adanya penambangan itu. "Beberapa pelaku yang kami jumpai, mengakui adanya 'jatah' untuk oknum aparat," tegasnya.
"Nah, Polda jangan hanya sampai menangkap warga dan memburu para cukong saja. Tapi, jangan lupa sanksi tegas untuk oknum yang mintak jatah itu," harap Irhayandi.
AMPK kecewa dengan aparat penegak hukum di Kuansing. Sebab, aktivitas PETI tidak hanya sekarang adanya. Namun sudah ada sejak beberapa tahun lalu. Bahkan, saat ini sudah ada 2.000 mesin dompeng yang beroperasi. "Polda harus bekerja lebih keras lagi, jangan hanya lima orang yang sudah ditahan saja sebagai tersangka, namun masih banyak pelaku lain. Termasuk oknum aparat," tegas Irhayandi.(san)