DURI - Jika setiap hari ada 5 Kartu Keluarga (KK) di Kelurahan Air Jamban yang mengajukan surat pindah, maka sebulan atau 22 hari karja jumlahnya bisa mencapai 110 KK. Dan jika dikalikan 4 jiwa saja rata-rata per KK, ada sekitar 440 jiwa yang sudah keluar dari Duri Kecamatan Mandau, Kabupaten Bengkalis, Riau.

Angka tersebut baru dari satu Kelurahan saja, bagaimana dengan 23 Kelurahan dan Desa lainnya di Mandau. Tentunya jumlahnya tidak akan jauh beda dari Kelurahan Air Jamban, termasuk alasan pindahnya. Banyaknya warga Mandau yang mengajukan surat pindah keluar daerah, sudah merupakan bukti bahwa Mandau tidak potensial lagi dan lambat laun akan menjadi Kota Mati.

Lurah Air Jamban, H Daswan SH melalui Kasi Pemerintahan, Kasmari saat di konfirmasi GoRiau.com mengenai pelayanan menjelang Ramadan ini mengatakan, pelayanan kantor didominasi oleh permohonan surat pindah warga.

"Biasanya paling banyak itu surat masuk, warga pendatang baru serta permohonan Surat Keterangan Ganti Rugi (SKGR) tanah, tetapi sudah hampir sebulan ini warga yang datang kebanyakan mengurus surat pindah saja. Dan untuk pelayanan lainnya sangat sepi," kata Kasmari, Rabu (22/6/2016) malam disela kegiatan Safari Ramadan Bupati Bengkalis, Amril Mukminin di Desa Boncah Mahang.

Dari permohonanan surat pindah yang masuk itu, lanjut Kasmari yang juga Pj Kepala Desa Pematang Obo ini, rata-rata alasan warga mengajukan pindah karena ekonomi yang sulit saat ini di Duri, sejak mereka menjadi salah satu korban dari anjloknya harga minyak dunia yang menyebabkan mereka dirumahkan oleh perusahaan masing-masing.

"Rata-rata itu alasannya PHK, bertahan pun untuk tetap di Duri juga belum tentu bisa mendapat penghasilan. Sementara butuh biaya untuk makan sehari-hari dan pendidikan anak. Makanya paling banyak itu tujuan pindahnya itu ke Sumatera Barat. Disana mungkin mereka punya sawah atau ladang yang bisa diolah," tutup Kasmari. ***