PEKANBARU – Pengamat ekonomi sekaligus dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Riau, Gatot Wijayanto, menilai fenomena “Sell Indonesia” yang ramai di kalangan investor global merupakan cermin menurunnya kepercayaan terhadap konsistensi kebijakan ekonomi nasional.

Menurut Gatot, seruan menjual saham Indonesia yang muncul dari laporan Bloomberg dan diperkuat oleh aksi jual asing besar-besaran di Bursa Efek Indonesia bukan sekadar reaksi sesaat.

“Ini adalah akumulasi dari ketidakpastian kebijakan fiskal, arah reformasi ekonomi, dan komunikasi pemerintah yang belum meyakinkan,” ujarnya kepada GoRiau.com, Selasa (9/6/2026).

Ia menekankan bahwa pasar modal tidak hanya menilai data ekonomi, tetapi juga kredibilitas tata kelola. Ketika investor meragukan konsistensi kebijakan, mereka akan menahan modal atau memindahkan dana ke negara lain yang dianggap lebih stabil.

Gatot menyoroti bahwa penurunan IHSG hingga 4,2 persen dan pelemahan rupiah beberapa waktu lalu menunjukkan tekanan ganda: faktor global berupa tingginya suku bunga The Fed, serta faktor domestik berupa ketidakpastian kebijakan.

“Jika tekanan hanya global, seharusnya pasar Asia lain juga jatuh sama dalamnya. Faktanya, beberapa bursa Asia masih lebih tahan. Artinya, ada risiko domestik yang sedang dinilai pasar terhadap Indonesia,” jelasnya.

Ia menilai bahwa kredibilitas kebijakan fiskal dan komunikasi pemerintah menjadi titik lemah. Prospek negatif dari lembaga pemeringkat seperti Moody’s dan Fitch, serta rebalancing MSCI dan FTSE, memperkuat persepsi risiko.

Gatot menambahkan, efek dari lemahnya kepercayaan investor tidak hanya di pasar modal, tetapi juga di sektor riil. “Ketika harga saham jatuh dan investor asing keluar, kemampuan perusahaan mencari pendanaan baru akan lebih terbatas dan mahal,” katanya.

Ia mengingatkan bahwa pemerintah harus segera memperbaiki komunikasi kebijakan agar investor melihat arah ekonomi yang jelas. Transparansi dalam pembiayaan program, termasuk Patriot Bond dan instrumen lain, menjadi penting untuk mengembalikan keyakinan pasar.

Dari sisi akademik, Gatot menilai fenomena ini sebagai peringatan keras bahwa Indonesia tidak bisa hanya mengandalkan fundamental ekonomi.

“Pertumbuhan 5,61 persen di kuartal I memang positif, tetapi tanpa kredibilitas kebijakan, angka itu tidak cukup untuk menahan arus keluar modal,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa kepercayaan adalah mata uang utama di pasar global. “Investor tidak hanya membeli saham, mereka membeli keyakinan terhadap masa depan suatu negara. Jika keyakinan itu hilang, maka narasi ‘Sell Indonesia’ akan terus bergema,” kata Gatot.

Gatot menutup pernyataannya dengan pesan bahwa momentum ini harus dijadikan refleksi. “Pemerintah dituntut lebih disiplin fiskal, konsisten dalam kebijakan, dan transparan dalam komunikasi. Tanpa itu, risiko premi Indonesia akan terus naik, dan pasar akan semakin menjauh.” ***