
PEKANBARU - Jelang peralihan Blok Rokan dari PT Chevron Pasific Indonesia (CPI), puluhan ribu karyawan di perusahaan pengebor minyak ini gelisah memikirkan masa depannya, apakah nanti akan berakhir menjadi pengangguran atau masih bisa diberi kesempatan untuk bekerja di perusahaan baru pengelola Blok Rokan, dalam hal ini, Pertamina.
Keresahan para karyawan yang rata-rata merupakan anak jati Riau ini pun terdengar hingga ke telinga Ketua Dewan Pimpinan Harian (DPH) Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR), Datuk Seri Syahril Abubakar.
Untuk itu, Datuk Syahril pun mengimbau agar nantinya Pertamina mengutamakan karyawan-karyawan lama yang pernah dipekerjakan Chevron tersebut.
"Kami minta Pertamina tidak membawa banyak tenaga kerja dari luar. Tenaga kerja yang lama itu dulu aja yang diberdayakan. Mereka ini sudah berpengalaman dan lebih tahu kondisi minyak di bumi kita," kata Syahril di Balai Adat LAMR, Kamis (12/3/2020).
Saat ini, lanjut Syahril, jumlah anak Riau yang 'menggantungkan' hidupnya pada perusahaan yang mengelola ladang minyak ini, ada sekitar 4.000 orang yang bekerja sebagai pegawai murni di Chevron dan 20.000 orang karyawan subcon bisnis partner Chevron.
"Berarti total anak Riau yang bekerja di sana ada sekitar 24.000 orang lebih. Semuanya memiliki KTP Riau, anak Riau dan paling banyak bermukim di Duri. Bayangkan kalau mereka ditinggal begitu saja. Pasti akan menimbulkan masalah baru lagi, juga menambah angka pengangguran di Riau," kata Syahril.
Selain itu, imbuh Syahril, Chevron selaku perusahaan terdahulu para karyawan ini juga dituntut untuk memberikan pesangon.
"Chevron wajib memberikan pesangon, terlepas nanti karyawannya ini dipakai Pertamina atau tidak. Harus ada pesangon," tegasnya. ***