SELATPANJANG - Salmah (39), istri Wan Saparuddin (Alm) nelayan yang meninggal dunia akibat tenggelam pada pertengahan Desember 2015 menemui Pj Bupati Kepulauan Meranti. Ia minta solusi agar mendapat santunan yang layak guna menghidupi lima anaknya.

Salmah ketika ditemui di Selatpanjang, Senin (21/12/2015) mengatakan bahwa sebelumnya Ia telah pergi menemui tokeh alharhum suaminya untuk meminta santunan. Oleh tokehnya yang bernama Ai, warga Tionghoa Telesung, Salmah hanya diberikan uang santunan Rp5 juta.

Dengan uang Rp5 juta itu, Salmah menganggap tidak bisa bertahan lama untuk menghidupi kelima anaknya. Salmah pun belum menerima bantuan tersebut.

Salmah waktu itu menginginkan tokeh alhamrhum suaminya membiayai dua anak yang masi kecil.

"Saya minta jaminan kehidupan untuk dua anak saya, yang kecil 2 tahun dan yang kelas 3 SD. Minta ditanggung mereka sampai tamat SMP," kata Salmah.

Permintaan itu tidak disanggupi Ai.

Kemudian, Salmah. Memberikan opsi kedua, yaitu membantunya Rp25 juta. "Saya minta bantuan itu dinaikkan jadi Rp25 juta, tapi tokeh itu bilang tidak sanggup," ujarnya lagi.

Untuk itu, setelah tidak menemui jalan penyelesaian, Salmah berinisiatif untuk melaporkan hal ini ke Pemda.

Senin pagi, Salmah berhasil menemui Pj Bupati Kepulauan Meranti Drs H Edy Kusdarwanto MM dan Sekda Iqaruddin.

H Edy Kusdarwanto meminta permasalahan dikomunikasikan dengan Dinas Sosial. "Ini nanti dikomunikasikan ke Disos. Apa yang bisa dibantu, mohon diberikan. Ini musibah," ujar Edy.

Kemudian, Iqaruddin juga meminta Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) untuk melihat jenis usaha tokeh alharhum Wan Saparuddin ini, sebab memang bergerak di bidang perikanan. "Kita minta Disos memediasi antara keluarga korban dengan tokehnya," ujar Iqaruddin pula.

Sekedar informasi, 5 anak Salmah ini, satu sudah tamat SMA. Anak kedua dan ketiga sekolah SMA dan SMP dan sudah mau selesai. Anak keempat sekolah SD, kemudian anak bungsunya masih berusia dua tahun. ***